Senin, 05 November 2012

Menjadi Lektor


1.   PENDAHULUAN

Lector adalah salah satu bagian tugas yang penting dalam perayaan liturgi,yakni menyampaikan Sabda Allah kepada seluruh umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi atau Ibadat Sabda. Namun masih jarang Lektor yang dapat menghidupi tugasnya ini, dan hanya asal membaca saja tanpa memperhatikan aspek-aspek penting menjadi Lektor. Oleh sebab itu banyak hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan agar dapat menyampaikan Sabda Allah dengan baik. Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengulas beberapa hal yang harus dimiliki dan dikuasai seorang Lektor, hal ini saya sampaikan berdasar dari pengamatan yang telah saya lakuan di Gereja Paroki khususnya wilayah Madiun ini. Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membaca, dan dapat menambah pengetahuan serta semangat untuk ambil bagian menjadi petugas liturgi secara khusus menjadi seorang Lektor.


2.   ISI

2.1  Arti dan Sejarah “Lektor”

Ada beberapa jenis petugas liturgy, salah satunya adalah lector. Kata “lektor”  berasal dari bahasa Latin yakni lector, yang berarti; pembaca, yang membacakan. Dalam ranah liturgy lector diartikan sebagai pembaca Sabda Allah, dan juga menjadi tanda kehadiran Allah yang berbicara kepada umat-Nya. Lector menghadirkan Allah yang yang bersabda melalui bahasa dan cara komunikasi manusiawi. Keberadaan seorang pembaca Sabda Allah dalam peribadatan suci sudah ditemukan dalam tradisi agama Yahudi. Dapat kita lihat dalam Kitab Suci dikisahkan saat Yesus datang ke Nazaret, lalu Ia masuk ke rumah ibadat, dan membaca  dari teks Yesaya, setelah itu mulai mengajar. Dari tradisi peribadatan Yahudi di sinagoga itu, biasanya seorang tampil dari tengah jemaat. Kepadanya diberikan kitab yang diambil dari Kitab Taurat dan Para Nabi. Dan setelah dibuka, dibacalah salah satu teks. Selesai pembacaan, kitab tersebut ditutup dan kemudian diberikan lagi kepada pejabat dan kemudian dilanjutkan dengan pengajaran. Dalam abad-abad awal kekristenan, pembacaan Kitab Suci dalam liturgi, termasuk surat-surat Perjanjian Baru dan Injil, dibawakan oleh lektor. Peran lektor sangat penting dan terhormat, masuk dalam tata tahbisan minor subdiakon, diberikan dalam ritus khusus melalui penumpangan tangan uskup dan disertai doa, namun lector tidak dikenakan kewajiban untuk hidup selibat. Namun hal itu sudah tidak lagi dilakukan sejak Konsili Vatikan II mengadakan pembaruan, dan saat ini tugas lector dapat djalankan oleh awam yang diterimakan dengan pelantikan.

2.2     Tugas dan Makna Menjadi Lektor
Tugas seorang lektor dibedakan menjadi dua jenis yakni tugas utama dan tugas lain-lain. Tugas utamanya yakni adalah;
·       Membacakan Sabda Tuhan
Dalam hal ini ektor tidak hanya membaca saja, namun harus bisa menghayati bahwa Allah tidak hanya berbicara saja tetapi juga menjumpai umat-Nya melalui sabda.
·       Mewartakan Sabda Tuhan
Dimana dalam Tradisi, para pewarta memberitakan keselamatan Allah kepada umat melalui sabda.
·       Menghadirkan Allah yang bersabda dalam bentuk symbol
Seluruh diri lector merupakan symbol yang nyata yang menghadirkan Allah, termasuk suara dan seluruh sikap/ekspresi kemanusiaannya. Sehimgga seorang lector harus sungguh-sungguh.

Tugas yang lainnya adalah:
·       Membawakan antiphon pembuka dan antifon komuni.
·       Membawakan ayat-ayat Mazmur tanggapan
·       Membawakan doa umat
·       Membantu tugas Imam


2.3     Syarat-syarat menjadi Lektor
Karena tugas lector bukanlah tugas yang mudah melainkan lektor adalah utusan Tuhan untuk menyampaikan Sabda-Nya dalam liturgi Gereja. Untuk itu, para lektor dipilih dari antara jemaat untuk diberi kepercayaan dan kemudian dilantik untuk tugas pelayanan pembacaan Sabda Allah. Lektor dipilih untuk menyampaikan Sabda Allah sebagaimana Allah sendiri ingin menyampaikannya. Bagaikan nabi, lektor adalah penyambung lidah Tuhan, komunikator dan juru bicara Tuhan. Maka lektor haruslah bersedia memberikan dirinya sebagai alat Tuhan. Maka ada syarat-syarat tertentu untuk menjadi lector, diantaranya;
Pertama, mempuyai pengertian dan keyakinan akan sabda yang dibacakan. Maka pembaca harus mulai dengan membaca sendiri apa yang mau dibacakan di depan orang banyak, untuk memahaminya dengan sedalam-dalamnya. Tanpa sebuah persiapan tentu pembaca tidak akan dapat menentukan kapan dia harus beritirahat atau jeda, dan kapan ia harus memberi penekanan terhadap kalimat yang penting. mereka diharapkan membiasakan diri serius dalam mempersiapkan diri, melatih ketrampilan serta selalu mengevaluasi pelaksanaan tugasnya. Yakni baik secara jujur lewat introspeksi diri maupun melalui masukan/kritik dari orang lain atau tim liturgi. Evaluasi ini sangat peing untuk dilaksanakan karena penting bagi kepentingan diri lector untuk meningkatkan kualitas membaca. Diharapkan pula agar mereka senantiasa melakukan tugas pembacaan Sabda Tuhan dengan benar, baik dan indah.  Membaca dengan baik adalah dalam membawakan suatu teks pembaca harus memahami dan menghayati sendiri. Sehingga dalam pembacaannya ia dapat megadakan variasi ketegangan. Ketiga pokok kesadaran tersebut sangat berarti bagi lektor untuk mensyukuri karunia iman yang diterimanya serta mengekspresikannya dalam pelayanan tugas pembacaan Sabda Allah.
Kedua, untuk menjadi lector harus dicalonkan dan dipilih oleh umat setempat sebagai orang yang dianggap layak, tepat dan cocok untuk ugas pelayanan Firman, dan dia hurus terpanggil menjadi seorang lector. Untuk itu dia harus mengajukan surat permohonan kepada pastor paroki dan menjelaskan motivasinya untuk menjadi lector. Menjadi seorang lector juga harus yang terhormat dihadapan umat, agar umat dapat menerima sabda dengan sungguh-sungguh dan dihayati. Perlu diingat kemali bahwa agar sabda Allah dapat diterima Umat adalah yang menjadi pendukung salah satunya adlah lector sebagai komunikator.


1.4 Tata Gerak Pelaksanaan Tugas Lektor menurut PUMR

Ø  Dalam prosesi menuju altar (dianjurkan terutama untuk misa hari-hari raya); bila tidak ada diakon, lektor - dengan mengambil posisi di depan imam selebran / konselebran (PUMR 120), dapat membawa Evangeliarium (Kitab Injil yang khusus memuat teks yang dipakai sepanjang tahun kalender liturgi; hindari membawa lembar teks misa!) dengan sedikit mengangkatnya di depan dada dan cover depan menghadap ke depan. Jika tidak membawa Evangeliarium, lektor berjalan dalam deret para pelayan lain (PUMR 195). Saat tiba di depan altar (di bawah panti imam), ketika rombongan prosesi lain berlutut, lektor membungkuk khidmat, kemudian berdiri bersama dan membawa Evangeliarium langsung ke altar serta meletakkannya di atasnya (baik bila ada book stand yang layak) lalu berbalik berjalan bersamaan dengan petugas-petugas lain menuju tempat duduk yang telah disediakan khusus (dianjurkan di antara umat di deret terdepan, dan tidak di wilayah panti imam).
Ø  Segera setelah imam selebran menyelesaikan Doa Pembuka, lektor berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju panti imam, berhenti dan berlutut sejenak (cukup 3 detik) di depari altar pusat, berdiri (tanpa tunduk lagi) lalu berjalan menuju mimbar baca atau ambo tanpa perlu menundukkan kepala ke arah imam selebran duduk. Berlutut di depan altar pusat dapat diganti dengan menundukkan kepala jika di belakang altar pusat tidak terdapat tabernakel (yang berisi tubuh Kristus).
Ø  Sambil berdiri tegak (tak satu pun kaki dimainkan, ditekuk atau jinjit sekali pun) segera lakukan persiapan kilat:
Ø  Buka Lectionarium tepat pada halaman yang akan dibaca (pastikan sudah ditandai sebelumnya entah dengan pita atau pembatas lain),
Ø  Pastikan microphone pada posisi on dan level ketinggiannya sesuai,
Ø  Letakkan kedua tangan di atas-pinggir buku Lectionarium (untuk memastikan lembar halaman tidak terbalik tertiup udara mengalir; dan bila diperlukan, dalam posisi ini salah satu tangan dapat berfungsi untuk membantu mata mengikuti proses pembacaan).
Ø  Awalilah membaca dengan rumusan, “Bacaan diambil dari ….” (tanpa menyebut rubrik, bab maupun ayatnya) dan setelah jeda sejenak (cukup 3 detik) lanjutkan membaca teks keseluruhan. Kata-kata “Bacaan Pertama” atau “Bacaan Kedua” tidak perlu dibaca juga, sebab itu hanya judul, berkedudukan sama seperti Doa Pembuka, Doa Syukur Agung, Komuni dsb.7 Akhiri dengan rumusan, “Demikianlah sabda Tuhan” setelah lebih dahulu memberi waktu jeda 3 detik pada akhir teks.
Ø  Setelah selesai membacakan Sabda Allah, lektor berjalan menuju depan altar, berhenti dan berlutut khidmat (3 detik) menghadap altar pusat lalu berdiri berbalik berjalan menuju tempat duduk semula.
(dikutip dari: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id555.htm, tgl: 3 Oktober 2012 pkl.12:12 am)

1.5 Hasil Pengamatan
Setelah mengerti bagaimana ketentuan menjadi lector dan juga tata gerak seorang lector marilah kita membandingkannya dengan para lector yang telah saya amati digereja paroki St.Cornelius, paroki Mater Dei, dan di stasi.
 Gereja St.cornelius ini merupakan paroki yang sudah cukup tua, sehingga strutur kepengurusan dan petugas Liturgi sudah cukup tertata dengan baik, dan sangat diperhatikan. Paroki ini mempunyai paguyuban lector, yang secara khusus para lector dilatih agar dapat mewartakan lector jugs sudajSabda Allah dengan baik dan benar. Memang sangat beda apabila lector dilatih dan diorganisir dengan yang tidak. Penghayatan merupakan aspek yang penting dalam penyampaian sabda Allah, agar intonasi dan jeda serta ekspresi dapat tampak ketika kita membacakan sabda Allah. Dengan begitu umat akan lebih tertarik untuk mendengarkan dan menerimanya, karena umat dapat sedikit menggambarkan situasi yang ada saat itu (situasi dalam bacaan). Selain itu cara membaca yakni diawali dengan “Bacaan diambi dari…….” Hal ini juga sudah dilakukan para lector di paroki St.cornelius ini. Dalam hal pakaian juga sudah rapi dan tidak terlalu pendek. Ini juga merupakan aspek yang penting dalam menyampaikan Sabda Allah, karena mempengaruhi kepercayaan diri seseorang untuk tampil didepan orang banyak. Selain penampilan, tata gerak dalam pelaksanaan mulai dari masuk sampai saat berlutut juga sudah baik. Secara umum tata gerak dalam pelaksanaan tugas lector di gereja paroki sudah baik, dan dapat berjalan dengan baik pula. Poin yang perlu digaris bawahi adalah persiapan yang matang  bagi para lector diparoki ini sudah dilakukan sehingga hasilnya juga lebih baik, meskipun yang bertugas hanya beberapa orang saja/tetap “itu-itu saja”.
Setelah mengamati tata gerak pelaksanaan lector di St.Cornelius, maka marilah kita melihat dan mengamati lector digereja paroki Mater Dei. Tidak berbeda jauh dengan yang saya amati sebelumnya, hanya saja jika di paroki ini tempat duduk lector juga berada di panti imam dan setelah bacaan Injil selesai, lector ganti baju di ruang sakristi dan mengambil posisi tempat duduk bersama para petugas koor. Sehingga saat perarakan kembali/pulang, lector tidak mengikuti. Di paroki Mater Dei tidak ada paguyuban khusus yang mengatur atau melatih lector ini, mereka ini hanya yang ditujuk pada waktu tugas ligkungan saja sehingga persiapan mereka saya rasa kurang maksimum. Selebihnya sama dengan psroki sebelumnya. Walaupun berbeda namun bukan berarti yang ini tidak  benar. Menurut saya, semua itu sama saja dan juga benar. Hanya tergantung bagaimana kita bisa memakmai dan menghayati. Setelah diparoki, saya akan beranjak ke stasi. Di stasi yang pernah saya datangi dan saya alami juga bahwa memang sulit untuk diadakan persiapan yang mendalam karena kterbatasan waktu dan umat yang bisa atau tahu. Karena kurangnya persiapan maka dalam membaca Sabda Allah, lector tidak jarang kurang bisa membawa umat untuk dapat tertarik. Hal ini disebabkan karena lector tidak tahu kapan harus jeda dan kapan harus diadakan penekanan. Sering kali lector ditunjuk hanya karena tidak ada orang sehingga sering mendadak, maka tidak waktu sama sekali untuk menghayati apa yang ada dalam Kitab Suci. Hal ini yang kerap kali harus menjadi perhatian khusus mereka belum menyadari akan tugas yang diemban. Namun tetap saja saya tidak bisa menyalahkan karena memang kondisi setempat yang realitanya seperti itu. Demikian pengamatan yang saya lakukan sejauh ini.

3.     PENUTUP
3.1     RELEVANSI
Setelah mengamati dan mengetahui bagaimana menjadi seorang lector itu saya jadi berpikir ulang untuk menjadi lector kaena syaratnya banyak dan juga tidak mudah. Namun disisi lain hal ini sangat penting apa lagi bagi kehidupanku dimasa yang akan datang. Saya harus bisa menyampaikan sabda Allah dengan baik agar dapat diterima oleh umat dan dapat diresapkan dalam hati. Banyak hal yang sebelumnya saya tidak tau menjadi tau ternyata dalam membaca Sabda Allah itu tidak boleh sembarangan namun menggunakan, hati, pikiran dan ekspresi untuk menampilkan bayangan tentang sabda yang dibacakan. Dengan semua criteria yang harus dipenuhi maka banyak hal yang harus dipersiapkan dan dilatih untuk menjadi lector. Mungkin yang terutama adalah kesiapan hati, lalu juga secara fisik, dan sarana pendukung untuk menunjang keberhasilan. Seperti pengeras suara dan juga kesiapan baju untuk menambah rasa percaya diri.
Selain hal tersebut dengan membuat tugas ini saya intropeksi diri, bahwa selama ini saya masih sangat kurang dalam membacakan sabda karena saya tidak pernah latihan, dan mremehkan tugas ini. Tapi ternyata hal ini bukan sesuatu yang mudah karena kita tidak hanya membaca tetapi juga menghadirkan Allah untuk umat. Dari sini saya jadi punya motivasi yang besar untuk belajar menjadi lector yang baik agar kelak saya juga dapat menjadi katelis yang baik dan dapat menghadirkan Allah dalam diri umat.

3.2       KESIMPULAN
Lector tidak hanya membaca Kitab Suci saja, namun juga tugasnya yang utama adalah menghadirkan Allah, mewartakan Allah, dan membacakan sabda Allah. Dan seluruh diri lector adalah merupakan symbol kehadiran Allah. Maka poin penting yang harus dilaksanakan adalah mempersiapkan diri dan bacaan jauh-jauh hari, agar kita dapat mengemas bacaan itu sesuai dengan isi yang mau disampaikan kepada umat agar umat dapat menyadari kehadiran Allah dalam setiap sabda yang kita wartakan






DAFTAR PUSTAKA


http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id555.htm, tgl: 3 Oktober 2012 pkl.12:12 am
Martasudjita, E. 1999. Pengantar Liturgi Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi. Yogyakarta
Waskito, J.1981. Menjadi Lektor. Yogyakarta: Kanisius




Tidak ada komentar:

Posting Komentar