1. PENDAHULUAN
Lector adalah
salah satu bagian tugas yang penting dalam perayaan liturgi,yakni menyampaikan
Sabda Allah kepada seluruh umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi atau Ibadat
Sabda. Namun masih jarang Lektor yang dapat menghidupi tugasnya ini, dan hanya
asal membaca saja tanpa memperhatikan aspek-aspek penting menjadi Lektor. Oleh
sebab itu banyak hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan agar dapat
menyampaikan Sabda Allah dengan baik. Dalam tulisan ini saya akan mencoba
mengulas beberapa hal yang harus dimiliki dan dikuasai seorang Lektor, hal ini
saya sampaikan berdasar dari pengamatan yang telah saya lakuan di Gereja Paroki
khususnya wilayah Madiun ini. Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat
bermanfaat bagi siapapun yang membaca, dan dapat menambah pengetahuan serta
semangat untuk ambil bagian menjadi petugas liturgi secara khusus menjadi seorang
Lektor.
2.1
Arti
dan Sejarah “Lektor”
Ada
beberapa jenis petugas liturgy, salah satunya adalah lector. Kata “lektor” berasal dari bahasa Latin yakni lector, yang berarti; pembaca, yang
membacakan. Dalam ranah liturgy lector diartikan sebagai pembaca Sabda Allah,
dan juga menjadi tanda kehadiran Allah yang berbicara kepada umat-Nya. Lector
menghadirkan Allah yang yang bersabda melalui bahasa dan cara komunikasi
manusiawi. Keberadaan seorang pembaca Sabda Allah
dalam peribadatan suci sudah ditemukan dalam tradisi agama Yahudi. Dapat kita
lihat dalam Kitab Suci dikisahkan saat Yesus datang ke Nazaret, lalu Ia masuk
ke rumah ibadat, dan membaca dari teks
Yesaya, setelah itu mulai mengajar. Dari tradisi peribadatan Yahudi di sinagoga
itu, biasanya seorang tampil dari tengah jemaat. Kepadanya diberikan kitab yang
diambil dari Kitab Taurat dan Para Nabi. Dan setelah dibuka, dibacalah salah
satu teks. Selesai pembacaan, kitab tersebut ditutup dan kemudian diberikan lagi
kepada pejabat dan kemudian dilanjutkan dengan pengajaran. Dalam abad-abad awal
kekristenan, pembacaan Kitab Suci dalam liturgi, termasuk surat-surat
Perjanjian Baru dan Injil, dibawakan oleh lektor. Peran lektor sangat penting
dan terhormat, masuk dalam tata tahbisan minor subdiakon, diberikan dalam ritus
khusus melalui penumpangan tangan uskup dan disertai doa, namun lector tidak
dikenakan kewajiban untuk hidup selibat. Namun hal itu sudah tidak lagi
dilakukan sejak Konsili Vatikan II mengadakan pembaruan, dan saat ini tugas
lector dapat djalankan oleh awam yang diterimakan dengan pelantikan.
2.2 Tugas dan Makna Menjadi
Lektor
Tugas seorang lektor dibedakan menjadi
dua jenis yakni tugas utama dan tugas lain-lain. Tugas utamanya yakni adalah;
· Membacakan Sabda Tuhan
Dalam hal ini ektor tidak hanya membaca saja, namun harus bisa menghayati
bahwa Allah tidak hanya berbicara saja tetapi juga menjumpai umat-Nya melalui
sabda.
· Mewartakan Sabda Tuhan
Dimana dalam Tradisi, para pewarta memberitakan keselamatan Allah kepada
umat melalui sabda.
· Menghadirkan Allah yang bersabda dalam bentuk symbol
Seluruh diri lector merupakan symbol yang nyata yang menghadirkan Allah,
termasuk suara dan seluruh sikap/ekspresi kemanusiaannya. Sehimgga seorang
lector harus sungguh-sungguh.
Tugas yang lainnya
adalah:
· Membawakan antiphon pembuka dan antifon komuni.
· Membawakan ayat-ayat Mazmur tanggapan
· Membawakan doa umat
·
Membantu tugas Imam
2.3
Syarat-syarat menjadi
Lektor
Karena
tugas lector bukanlah tugas yang mudah melainkan lektor adalah utusan Tuhan untuk menyampaikan Sabda-Nya dalam liturgi
Gereja. Untuk itu, para lektor dipilih dari antara jemaat untuk diberi
kepercayaan dan kemudian dilantik untuk tugas pelayanan pembacaan Sabda Allah.
Lektor dipilih untuk menyampaikan Sabda Allah sebagaimana Allah sendiri ingin
menyampaikannya. Bagaikan nabi, lektor adalah penyambung lidah Tuhan,
komunikator dan juru bicara Tuhan. Maka lektor haruslah bersedia memberikan dirinya
sebagai alat Tuhan. Maka ada syarat-syarat tertentu
untuk menjadi lector, diantaranya;
Pertama,
mempuyai pengertian dan keyakinan akan sabda yang dibacakan. Maka pembaca harus
mulai dengan membaca sendiri apa yang mau dibacakan di depan orang banyak,
untuk memahaminya dengan sedalam-dalamnya. Tanpa sebuah persiapan tentu pembaca
tidak akan dapat menentukan kapan dia harus beritirahat atau jeda, dan kapan ia
harus memberi penekanan terhadap kalimat yang penting. mereka diharapkan membiasakan diri serius dalam mempersiapkan diri,
melatih ketrampilan serta selalu mengevaluasi pelaksanaan tugasnya. Yakni baik
secara jujur lewat introspeksi diri maupun melalui masukan/kritik dari orang
lain atau tim liturgi. Evaluasi ini sangat peing untuk dilaksanakan karena
penting bagi kepentingan diri lector untuk meningkatkan kualitas membaca. Diharapkan
pula agar mereka senantiasa melakukan tugas pembacaan Sabda Tuhan dengan benar,
baik dan indah. Membaca dengan baik
adalah dalam membawakan suatu teks pembaca harus memahami dan menghayati
sendiri. Sehingga dalam pembacaannya ia dapat megadakan variasi ketegangan. Ketiga
pokok kesadaran tersebut sangat berarti bagi lektor untuk mensyukuri karunia
iman yang diterimanya serta mengekspresikannya dalam pelayanan tugas pembacaan
Sabda Allah.
Kedua,
untuk menjadi lector harus dicalonkan dan dipilih oleh umat setempat sebagai
orang yang dianggap layak, tepat dan cocok untuk ugas pelayanan Firman, dan dia
hurus terpanggil menjadi seorang lector. Untuk itu dia harus mengajukan surat
permohonan kepada pastor paroki dan menjelaskan motivasinya untuk menjadi
lector. Menjadi seorang lector juga harus yang terhormat dihadapan umat, agar
umat dapat menerima sabda dengan sungguh-sungguh dan dihayati. Perlu diingat
kemali bahwa agar sabda Allah dapat diterima Umat adalah yang menjadi pendukung
salah satunya adlah lector sebagai komunikator.
1.4 Tata Gerak Pelaksanaan Tugas
Lektor menurut
PUMR
Ø Dalam prosesi menuju altar (dianjurkan terutama untuk misa hari-hari
raya); bila tidak ada diakon, lektor - dengan mengambil posisi di depan imam
selebran / konselebran (PUMR 120), dapat membawa Evangeliarium (Kitab Injil
yang khusus memuat teks yang dipakai sepanjang tahun kalender liturgi; hindari
membawa lembar teks misa!) dengan sedikit mengangkatnya di depan dada dan cover
depan menghadap ke depan. Jika tidak membawa Evangeliarium, lektor berjalan
dalam deret para pelayan lain (PUMR 195). Saat tiba di depan altar (di bawah
panti imam), ketika rombongan prosesi lain berlutut, lektor membungkuk khidmat,
kemudian berdiri bersama dan membawa Evangeliarium langsung ke altar serta
meletakkannya di atasnya (baik bila ada book stand yang layak) lalu berbalik
berjalan bersamaan dengan petugas-petugas lain menuju tempat duduk yang telah
disediakan khusus (dianjurkan di antara umat di deret terdepan, dan tidak di wilayah
panti imam).
Ø Segera setelah imam selebran menyelesaikan Doa Pembuka, lektor berdiri
dari tempat duduknya, berjalan menuju panti imam, berhenti dan berlutut sejenak
(cukup 3 detik) di depari altar pusat, berdiri (tanpa tunduk lagi) lalu
berjalan menuju mimbar baca atau ambo tanpa perlu menundukkan kepala ke arah
imam selebran duduk. Berlutut di depan altar pusat dapat diganti dengan
menundukkan kepala jika di belakang altar pusat tidak terdapat tabernakel (yang
berisi tubuh Kristus).
Ø Sambil berdiri tegak (tak satu pun kaki dimainkan, ditekuk atau jinjit
sekali pun) segera lakukan persiapan kilat:
Ø Buka Lectionarium tepat pada halaman yang akan dibaca (pastikan sudah
ditandai sebelumnya entah dengan pita atau pembatas lain),
Ø Pastikan microphone pada posisi on dan level ketinggiannya sesuai,
Ø Letakkan kedua tangan di atas-pinggir buku Lectionarium (untuk memastikan
lembar halaman tidak terbalik tertiup udara mengalir; dan bila diperlukan,
dalam posisi ini salah satu tangan dapat berfungsi untuk membantu mata mengikuti
proses pembacaan).
Ø Awalilah membaca dengan rumusan, “Bacaan diambil dari ….” (tanpa menyebut
rubrik, bab maupun ayatnya) dan setelah jeda sejenak (cukup 3 detik) lanjutkan
membaca teks keseluruhan. Kata-kata “Bacaan Pertama” atau “Bacaan Kedua” tidak
perlu dibaca juga, sebab itu hanya judul, berkedudukan sama seperti Doa
Pembuka, Doa Syukur Agung, Komuni dsb.7 Akhiri dengan rumusan, “Demikianlah sabda Tuhan” setelah lebih
dahulu memberi waktu jeda 3 detik pada akhir teks.
Ø Setelah selesai membacakan Sabda Allah, lektor berjalan menuju depan
altar, berhenti dan berlutut khidmat (3 detik) menghadap altar pusat lalu
berdiri berbalik berjalan menuju tempat duduk semula.
1.5
Hasil Pengamatan
Setelah mengerti
bagaimana ketentuan menjadi lector dan juga tata gerak seorang lector marilah
kita membandingkannya dengan para lector yang telah saya amati digereja paroki
St.Cornelius, paroki Mater Dei, dan di stasi.
Gereja St.cornelius ini merupakan paroki yang
sudah cukup tua, sehingga strutur kepengurusan dan petugas Liturgi sudah cukup
tertata dengan baik, dan sangat diperhatikan. Paroki ini mempunyai paguyuban
lector, yang secara khusus para lector dilatih agar dapat mewartakan lector
jugs sudajSabda Allah dengan baik dan benar. Memang sangat beda apabila lector
dilatih dan diorganisir dengan yang tidak. Penghayatan merupakan aspek yang
penting dalam penyampaian sabda Allah, agar intonasi dan jeda serta ekspresi
dapat tampak ketika kita membacakan sabda Allah. Dengan begitu umat akan lebih
tertarik untuk mendengarkan dan menerimanya, karena umat dapat sedikit
menggambarkan situasi yang ada saat itu (situasi dalam bacaan). Selain itu cara
membaca yakni diawali dengan “Bacaan diambi dari…….” Hal ini juga sudah
dilakukan para lector di paroki St.cornelius ini. Dalam hal pakaian juga sudah
rapi dan tidak terlalu pendek. Ini juga merupakan aspek yang penting dalam
menyampaikan Sabda Allah, karena mempengaruhi kepercayaan diri seseorang untuk
tampil didepan orang banyak. Selain penampilan, tata gerak dalam pelaksanaan
mulai dari masuk sampai saat berlutut juga sudah baik. Secara umum tata gerak
dalam pelaksanaan tugas lector di gereja paroki sudah baik, dan dapat berjalan
dengan baik pula. Poin yang perlu digaris bawahi adalah persiapan yang
matang bagi para lector diparoki ini
sudah dilakukan sehingga hasilnya juga lebih baik, meskipun yang bertugas hanya
beberapa orang saja/tetap “itu-itu saja”.
Setelah
mengamati tata gerak pelaksanaan lector di St.Cornelius, maka marilah kita
melihat dan mengamati lector digereja paroki Mater Dei. Tidak berbeda jauh
dengan yang saya amati sebelumnya, hanya saja jika di paroki ini tempat duduk
lector juga berada di panti imam dan setelah bacaan Injil selesai, lector ganti
baju di ruang sakristi dan mengambil posisi tempat duduk bersama para petugas
koor. Sehingga saat perarakan kembali/pulang, lector tidak mengikuti. Di paroki
Mater Dei tidak ada paguyuban khusus yang mengatur atau melatih lector ini,
mereka ini hanya yang ditujuk pada waktu tugas ligkungan saja sehingga
persiapan mereka saya rasa kurang maksimum. Selebihnya sama dengan psroki
sebelumnya. Walaupun berbeda namun bukan berarti yang ini tidak benar. Menurut saya, semua itu sama saja dan
juga benar. Hanya tergantung bagaimana kita bisa memakmai dan menghayati. Setelah diparoki, saya akan beranjak
ke stasi. Di stasi yang pernah saya datangi dan saya alami juga bahwa memang
sulit untuk diadakan persiapan yang
mendalam karena kterbatasan waktu dan umat yang bisa atau tahu. Karena
kurangnya persiapan maka dalam membaca Sabda Allah, lector tidak jarang kurang
bisa membawa umat untuk dapat tertarik. Hal ini disebabkan karena lector tidak
tahu kapan harus jeda dan kapan harus diadakan penekanan. Sering kali lector
ditunjuk hanya karena tidak ada orang sehingga sering mendadak, maka tidak
waktu sama sekali untuk menghayati apa yang ada dalam Kitab Suci. Hal ini yang
kerap kali harus menjadi perhatian khusus mereka belum menyadari akan tugas
yang diemban. Namun tetap saja saya tidak bisa menyalahkan karena memang
kondisi setempat yang realitanya seperti itu. Demikian pengamatan yang saya lakukan
sejauh ini.
3.
PENUTUP
3.1 RELEVANSI
Setelah
mengamati dan mengetahui bagaimana menjadi seorang lector itu saya jadi
berpikir ulang untuk menjadi lector kaena syaratnya banyak dan juga tidak
mudah. Namun disisi lain hal ini sangat penting apa lagi bagi kehidupanku
dimasa yang akan datang. Saya harus bisa menyampaikan sabda Allah dengan baik
agar dapat diterima oleh umat dan dapat diresapkan dalam hati. Banyak hal yang
sebelumnya saya tidak tau menjadi tau ternyata dalam membaca Sabda Allah itu
tidak boleh sembarangan namun menggunakan, hati, pikiran dan ekspresi untuk
menampilkan bayangan tentang sabda yang dibacakan. Dengan semua criteria yang
harus dipenuhi maka banyak hal yang harus dipersiapkan dan dilatih untuk
menjadi lector. Mungkin yang terutama adalah kesiapan hati, lalu juga secara
fisik, dan sarana pendukung untuk menunjang keberhasilan. Seperti pengeras
suara dan juga kesiapan baju untuk menambah rasa percaya diri.
Selain
hal tersebut dengan membuat tugas ini saya intropeksi diri, bahwa selama ini
saya masih sangat kurang dalam membacakan sabda karena saya tidak pernah
latihan, dan mremehkan tugas ini. Tapi ternyata hal ini bukan sesuatu yang
mudah karena kita tidak hanya membaca tetapi juga menghadirkan Allah untuk
umat. Dari sini saya jadi punya motivasi yang besar untuk belajar menjadi
lector yang baik agar kelak saya juga dapat menjadi katelis yang baik dan dapat
menghadirkan Allah dalam diri umat.
3.2
KESIMPULAN
Lector
tidak hanya membaca Kitab Suci saja, namun juga tugasnya yang utama adalah
menghadirkan Allah, mewartakan Allah, dan membacakan sabda Allah. Dan seluruh
diri lector adalah merupakan symbol kehadiran Allah. Maka poin penting yang
harus dilaksanakan adalah mempersiapkan diri dan bacaan jauh-jauh hari, agar
kita dapat mengemas bacaan itu sesuai dengan isi yang mau disampaikan kepada
umat agar umat dapat menyadari kehadiran Allah dalam setiap sabda yang kita
wartakan
DAFTAR PUSTAKA
Martasudjita, E. 1999.
Pengantar Liturgi Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi. Yogyakarta
Waskito, J.1981. Menjadi Lektor. Yogyakarta: Kanisius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar