Sabtu, 30 Juli 2016

Katekee SCP - Pelayanan Dalam Kepengurusan Lingkungan



 PELAYANAN DALAM KEPENGURUSAN LINGKUNGAN

Tempat              : Rumah Salah Satu Umat Lingkungan Stasi Walikukun
Waktu               : 19.00-21.00 WIB
Acara                 : Katekese Dewasa
Sub Tema 1       : “Pelayanan Dalam Kepengurusan Lingkungan”
Peserta               : Keluarga-keluarga di lingkungan St. Antonius.
Metode              : SCP (Share Cristian Praxis)
Sarana               : Kitab Suci, Cerita, Laptop, Teks Lagu.
Sumber Bahan :  
|  Supama, Marcus Leonard. 2012. Ketua Lingkungan di Era Sibuk. Kanisius: Yogjakarta.
|  LBI. 1976.Kitab Suci  Deterokanonika.lembaga Alkitab Indonesia: Jakarta

I.     PEMIKIRAN DASAR
          Umat beriman adalah anggota Tubuh Kristus yang dipersatukan dalam pembaptisan, yang mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing sesuai dengan kekhasan mereka. Namun, yang utama adalah kesatuan tugas mengembangkan visi dan misi Gereja agar tercapai keselamatan. Dalam hal ini umat menjadi subyek utama, entah umat dalam lingkup paroki, stasi, atau bahkan lingkungan. Umat di lingkungan sangat menentukan apakah visi dan misi itu dapat tercapai, karena umat lingkungan merupakan akar. Dengan begitu sangat diperlukan dukungan dari umat terutama dalam hal pelayanan.
          Banyak tokoh dari Gereja yang dapat kita teladani semangat pelayanannya, contohnya saja Bunda Theresa dari Calcuta. Ia mengebdikan diri dengan sepenuh hati demi keselamatan dunia, hal itu ia lakukan sungguh-sungguh karena rasa cintanya kepada Tuhan, Gereja dan dunia. Ia mengorbankan dirinya dan melayani orang-orang terlantar dengan sepenuh hati dan dengan ketulusan. Lalu apa yang sudah kita lakukan demi perkembangan Gereja? Sudahkah kita mengabdikan diri kita ini entah sebagai pengurus lingkungan atau petugas liturgy?
sudah lama sekali tidak membuka blog ini.... semoga bisa segera menambahkan sumber yang bermanfaat untuk semua pembaca....
terimakaih yang sudah berkunjung ke blog VEN@_WIN@... God bless you all .... :)

Rabu, 05 Maret 2014

Katekese SCP "Memaknai Sakit"

MEMAKNAI SAKIT

Tempat              : Rumah Salah Satu Umat Lingkungan Stasi Walikukun
Waktu               : 19.00-21.00 WIB
Acara                 : Katekese Dewasa
Sub Tema 1       : “Memaknai Sakit”
Peserta               : Keluarga-keluarga di lingkungan St. Antonius.
Metode              : SCP (Share Cristian Praxis)
Sarana               : Kitab Suci, Cerita, Laptop, Teks Lagu.
Sumber Bahan : 
|  Katekismus Gereja Katolik.

I.     PEMIKIRAN DASAR
          “Tuhan Yesus setia.” (2 Tes 3:3) Ini adalah janji Tuhan yang selalu ditepati-Nya. Terutama dalam keadaan sakit, saat kita tidak lagi dapat mengandalkan manusia, kita dapat bersandar pada janji Tuhan ini. Memang, pada saat kita sakit dan menderita, kita justru dapat lebih memahami sengsara Yesus pada saat memanggul salibNya ke gunung Kalvari, sehingga kita sungguh dapat merasakan persatuan dengan Yesus. Janganlah kita lupa bahwa pada saat yang sulit ini, Tuhan Yesus rindu untuk mempersatukan kita dengan DiriNya, agar kita memperoleh jamahan-Nya. Syukur kepada Tuhan, Gereja memiliki Sakramen Urapan Orang Sakit, yang menjadi tanda penyertaan Kristus, sarana pengurapan dan penyembuhan orang sakit, yang dapat mendatangkan rahmat yang luar biasa, entah berupa kesembuhan rohani, jasmani, ataupun keduanya, atau jika waktunya telah tiba, merupakan persiapan bagi kita untuk bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Oleh sebab itu sebagai seorang kristiani haruslah mampu memaknai sakit yang dialami. Melalui katekese ini umat diajak untuk mengetahui tentang bagaimana Gereja mengajarkan kepada kita soal sakit sehingga ketika umat mengalami peristiwa itu mereka dapat bertahan dalam iman yang teguh, dan tetap percaya bahwa Yesus adalah penolong.

Senin, 02 Desember 2013

Refleksi Katekumenat

PENDAHULUAN
            Dalam mengikuti proses perkuliahan, ada banyak ilmu yang telah saya dapatkan berkaitan dengan Pendidikan Teologi Katekumenat. Katekumenat merupakan ajaran iman yang diberikan kepada katekumen (calon baptis), guna mempersiapkan iman yang akan ia pegang. Ada hal-hal yang mengesan dan bermanfaat bagi saya secara pribadi dalam mengikuti proses perkuliahan ini yang menjadi bekal untuk masa yang akan datang nantinya. Namun saya tidak akan menjelaskan semua dalam makalah ini.
Di dalam makalah ini saya akan menuliskan pokok-pokok bahasan yang berkesan bagi saya, yakni berkaitan dengan Baptisan Menurut Segi Liturgis dan Pastoral. Bertolak dari tema ini, kemudian saya akan merefleksikannya dan mengaitkannya dengan kehidupan seorang Kristiani dan sebagai seorang calon Katekis. Semoga apa yang saya tuliskan ini sungguh dapat berguna bagi saya dan bagi pelayanan saya.
ISI
I.        Pokok-pokok Gagasan Ilmu Pendidikan Teologi Katekumenat
1.      Susunan dan Tahapan Baptisan
GRAVISSIMUM EDUCATIONIS

1. (Hak semua orang atas pendidikan)
Semua orang dari suku, kondisi atau usia manapun juga, berdasarkan martabat mereka selaku pribadi mempunyai hak yang tak dapat diganggu gugat atas pendidikan, yang cocok dengan tujuan maupun sifat-perangai mereka, mengindahkan perbedaan jenis, serasi dengan tradisi-tradisi kebudayaan serta para leluhur, sekaligus juga terbuka bagi persekutuan persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain, untuk menumbuhkan kesatuan dan damai yang sejati di dunia. Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah: mencapai pembinaan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, mengingat bahwa manusia termasuk anggotanya, dan bila sudah dewasa ikut berperan menunaikan tugas kewajibannya. Maka dengan memanfaatkan kemajuan ilmu-pengetahuan psikologi, pedagogi dan didaktik, perlulah anak-anak dan kaum remaja dibantu untuk menumbuhkan secara laas-serasi bakat pembawaan fisik, moral dan intelektual mereka. Begitu pula Konsili suci menyatakan, bahwa anak-anak dan kaum remaja berhak didukung, untuk belajar menghargai dengan suara hati yang lurus nuilai-nilai moral, serta dengan tulus menghayatinya secara pribadi, pun juga untuk makin sempurna mengenal serta mengasihi Allah. Konsili menganjurkan, supaya putera-puteri Gereja dengan jiwa yang besar menyumbangkan jerih-payah mereka diseluruh bidang pendidikan, terutama dengan maksud, agar buah hasil pendidikan dan pengajaran sebagaimana mestinya selekas mungkin terjangkau oleh siapa pun diseluruh dunia.