Sabtu, 30 Juli 2016

Katekee SCP - Pelayanan Dalam Kepengurusan Lingkungan



 PELAYANAN DALAM KEPENGURUSAN LINGKUNGAN

Tempat              : Rumah Salah Satu Umat Lingkungan Stasi Walikukun
Waktu               : 19.00-21.00 WIB
Acara                 : Katekese Dewasa
Sub Tema 1       : “Pelayanan Dalam Kepengurusan Lingkungan”
Peserta               : Keluarga-keluarga di lingkungan St. Antonius.
Metode              : SCP (Share Cristian Praxis)
Sarana               : Kitab Suci, Cerita, Laptop, Teks Lagu.
Sumber Bahan :  
|  Supama, Marcus Leonard. 2012. Ketua Lingkungan di Era Sibuk. Kanisius: Yogjakarta.
|  LBI. 1976.Kitab Suci  Deterokanonika.lembaga Alkitab Indonesia: Jakarta

I.     PEMIKIRAN DASAR
          Umat beriman adalah anggota Tubuh Kristus yang dipersatukan dalam pembaptisan, yang mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing sesuai dengan kekhasan mereka. Namun, yang utama adalah kesatuan tugas mengembangkan visi dan misi Gereja agar tercapai keselamatan. Dalam hal ini umat menjadi subyek utama, entah umat dalam lingkup paroki, stasi, atau bahkan lingkungan. Umat di lingkungan sangat menentukan apakah visi dan misi itu dapat tercapai, karena umat lingkungan merupakan akar. Dengan begitu sangat diperlukan dukungan dari umat terutama dalam hal pelayanan.
          Banyak tokoh dari Gereja yang dapat kita teladani semangat pelayanannya, contohnya saja Bunda Theresa dari Calcuta. Ia mengebdikan diri dengan sepenuh hati demi keselamatan dunia, hal itu ia lakukan sungguh-sungguh karena rasa cintanya kepada Tuhan, Gereja dan dunia. Ia mengorbankan dirinya dan melayani orang-orang terlantar dengan sepenuh hati dan dengan ketulusan. Lalu apa yang sudah kita lakukan demi perkembangan Gereja? Sudahkah kita mengabdikan diri kita ini entah sebagai pengurus lingkungan atau petugas liturgy?

          Menjadi pengurus lingkungan seakan-akan menjadi momok yang menakutkan. Seakan dipandang begitu berat tugasnya, dan ada sebagian orang menganggap diri tak layak. Alasannya karena tidak pintar atau karena kesibukan dalam pekerjaan sehingga menolak untuk dicalonkan menjadi ketua atau pengurus lingkungan. Maka jika ada yang bersedia menjadi ketua lingkungan harus diberi apresiasi dengan baik, karena hal ini sesungguhnya adalah kesanggupan yang luar biasa.
          Melihat hal itu tentunya sebagai petugas pastoral kita tidak bisa hanya diam saja, namun harus berupaya untuk mendorong umat agar bersedia terlibat aktif dalam pelayanan menggereja. Kesediaan mereka perlu dibantu dengan pelbagai sarana supaya mereka dapat mewujudkan pelayanan mereka dengan lebih baik. Katekese dengan tema “Pelayanan Dalam Kepengurusan Lingkungan” ini adalah satu cara untuk menumbuhkan semangat dalam diri umat agar tergerak hati untuk bersedia memberikan diri menjadi ketua lingkungan atau pengurus. Tujuannya adalah agar umat di stasi St. Yosef Pemandi-Walikukun dapat mewujudkan iman Kristiani mereka secara khusus dalam hidup menggereja. Kami berharap katekese ini dapat menginspirasi umat untuk mau ambil bagian dalam mengembangkan Gereja dengan menanggapi panggilan menjadi pengurus di lingkungan.

II.      Tujuan
Tujuan dari proses katekese ini :
1.      Menumbuhkan semangat umat untuk mau terlibat dalam kepengurusan lingkungan.
2.      Umat semakin menghayati dirinya sebagi bagian dari lingkungan, dengan cara terlibat aktif dalam pelayanan di gereja dan lingkungan.
3.      Umat memiliki keberanian untuk memberikan dirinya seutuhnya dalam kegiatan di lingkungan.

III.   Langkah-langkah
a.    Pengantar: Sapaan dari Fasilitator
Selamat malam Bapak, Ibu, dan saudara yang terkasih dalam Kristus. Bagaimana kabarnya? semoga selalu sehat dan dalam penyertaan Tuhan. Pada sore hari ini kita patut bersyukur karena pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak, Ibu, dan saudara mau meluangkan waktu untuk hadir dalam katekese malam ini. Dalam katekese ini kita akan belajar tentang menjadi pelayan dalam kepengurusan di lingkungan. Sebelum kita mulai proses dinamika pada malam ini, marilah kita mempersiapkan hati dengan mengawali pertemuan ini dengan nyanyian dan doa.

b.      Lagu PembukaPanggilan Tuhan (PS.682)
c.        Doa Pembuka
Marilah kita siapkan hati kita untuk masuk ke dalam doa…..
            Ya Allah yang maha rahim kami bersyukur karena kasih-Mu kami masih Kau perkenankan untuk berkumpul bersama dalam pertemuan mala mini. Terimakasih karena Engkau telah membimbing sepanjang aktivitas kami hari ini, kini kami berkumpul di tempat ini untuk semakin mengenal Engkau, dalam pelayanan kami dalam hidup menggereja. Berkatilah pertemuan kami ini ya Bapa curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami agar dapat kami dapat menghayati tugas dan tanggungjawab kami sebagai orang Kristen yang sejati. Semua kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

T Pengembangan Langkah Nol.
            Fasilitator mengajak umat untuk membaca sebuah cerita. Kemudian fasilitator memberikan panduan pertanyaan sebagai berikut:
MENGAPA SAYA YANG TERPILIH?
Tidak pernah ada orang yang bermiimpi menjadi seorang pengurus lingkungan. demikian dengan salah satu umat yang bernama Pak Yudas, menjadi ketua lingkungan tak pernah ia inginkan. Namun hatinya sangat gundah gulana ketika seusai misa Minggu Pak Yudas membaca selembar warta gereja. Di situ tercantum nama umat yang terpilih menjadi Ketua Lingkungan. Ketika ia melihat dari atas ke bawah ia berhenti di abjat Y, namanya tercantum dengan jelas di situ. Itu berarti ia terpilih menjadi salah satu calon ketua lingkungan. Ada beberapa nama yang diusulkan oleh lingkungan untuk menjadi calon Ketua Lingkuangan. Dan ia merasa nama-nama lain itu lebih layak dan pantas untuk menjadi ketua lingkungan.
T Langkah pertama: Pengungkapan Praksis Faktual
·      Pengantar    :
Bapak-ibu yang terkasih kita telah mendengar cerita tentang kegundahan Pak Yudas karena dicalonkan menjadi pengurus lingkungan. bertolak dari kisah itu maka marilah kita mengungkapkan pengalaman-pengalaman yang kita alami sebagai umat di lingkungan. Saya yakin tentunya bapak/ibu mempunyai  pengalaman yang menarik berkaitan dengan dinamika pelayanan dalam lingkungan atau gereja.
·      Pengungkapan Pengalaman :
a.       Apakah bapak/ibu pernah mengalami peristiwa seperti yang dialami pak Yudas?
b.      Jika bapak/ibu pernah merasakan, tindakan apa yang akan anda lakukan? Coba ceritakanlah pengalaman anda!
·    Kesimpulan
Bapak/ibu yang terkasih kita telah mendengarkan pengalaman-pengalaman yang menarik dari masing-masing individu. Semua pengalaman itu tentunya semakin memperkaya kita, dan dapat menginspirasi kita.
T  Langkah kedua         : Refleksi Kritis Pengalaman Faktual
·           Pengantar:
Bapak/ibu yang terkasih dari pengalaman tersebut kita mengetahui bagaimana menjadi pengurus/ketua lingkungan itu. Marilah sekarang kita coba mencermati dan medalami cerita itu perasaan apa saja yang muncul. Dengan pengalaman yang telah bapak/ibu alami.
Fasilitator mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
ª        Pendalaman Pengalaman
a. Apabila bapak/ibu menjadi pengurus/ketua lingkungan bagaimana anda menghayati tugas dan tanggungjawab itu?
b. hal apa yang membuat anda merasa tidak mampu (kesulitan) menjalankan tugas ini?
c. Pernahkah bapak/ibu sebagai orang katolik di lingkungan terlibat untuk menjadi pelayanan  bagi gereja?

ª    Kesimpulan :
Terkadang memang banyak tantangan dan hambatan ketika kita menjalankan tugas perutusan kita sebagai umat Katolik. Tidak jarang perasaan-perasaan ego dalam diri kita menghalangi kita untuk maju. Entah kesibukan atau karena perasaan tidak mampu. Untuk menjadi seorang ketua lingkungan. Tidak diperlukan seseorang yang pandai namun orang yang dengan terbuka mau memberikan diri untuk menjalankan tugasnya. Sebagai umat beriman kita telah dipersatukan untuk mampu terlibat dalam karya dan misi Gereja. Entah dalam suka maupun duka namun, hal itullah yang harus kita lakukan. Kita melayani karena kita telah lebih dahulu dilayani oleh Allah.


T  Langkah ketiga: Mengusahakan Supaya Tradisi Dan Visi  Kristiani Lebih Terjangkau
ª      Pengantar :
             Setelah kita berbagi pengalaman, marilah pada kesempatan ini kita belajar dari ajaran Gereja tentang sebuah pelayanan dalam hidup menggereja. Hari ini kita akan belajar dari Kitab Suci Kisah Para Rasul 20:17-21
a. Menurut Bapak Ibu Kitab Suci ini  berbicara tentang apa?
b. Makna apa yang bapak/ibu dapatkan?
c. Ayat mana yang menurut bapak/ibu menarik?
ª        Penegasan dari fasilitator
               Bapak, Ibu yang terkasih, setelah kita mendengarkan bacaan Kitab suci tadi bagaimana Paulus sungguh melayani Allah dengan rendah hati dan dengan murah hati. Hal inilah yang harus kita ingat baik-baik dan kita teladani. Melayani dengan murah hati berarti bagaimana melayani itu dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Pertama-tama yang dipikirkan adalah keselamatan bagi orang lain yang dilayani. Pelayanan murah hati adalah pelayanan layaknya kita menjadi pengurus lingkungan, pelayanan tanpa hitung-hitungan. Maksudnya adalah pelayanan kita ini tidak pernah diukur dengan uang. Ya, memang banyak pengorbanan yang dilakukan terkait dengan tenaga, pikiran, dan juga biaya. Namun apa yang kita lakukan ini sungguh mempunyai nilai lebih di mata Allah. Kita membantu orang lain untuk sampai kepada keselamatan.
               Menjadi pengurus lingkungan adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat. Ketua lingkungan adalah kaum awam. Pengertian awam secara positif yang kita jumpai dalam LG mengatakan, bahwa berkat baptis mereka telah dipersatukan dengan Kristus dan dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas kenabian, imamat, dan rajawi Kristus. Dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan dalam Gereja. Dengan ini Gereja menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang yang tidak tahu apa-apa tetapi memiliki peran penting dalam karya pastoral di lingkungan. Melalui pelayanan sebagai pengurus/ketua lingkunagan berarti melaksanakan kerasulan awam dalam Gereja sekaligus dunia. Hal ini terjadi karena pelayanan saeorang ketua lingkungan juga bersentuhan dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.


T  Langkah Keempat  :   Interpretasi karya dialektis Antara Praksis dan Visi Peserta dengan Tradisi dan Visi Kristiani
·                Pengantar        :
Setelah kita mendalami apa yang diperintahkan Yesus kepada kita melalui ajaran gereja, tentang berkarya bagi Gereja. Maka marilah kita bersama-sama semakin mendalami dengan mempertemukan pengalaman kita dengan ajaran gereja yang telah kita pelajari bersama.
Fasilitator mengajak peserta untuk berdialog, dengan pertanyaan pendalaman   sebagai berikut:
·                Pendalaman     :
a. Setelah mendengar penjelasan dari Kitab Suci tadi, apakah memberikan motivasi kepada kita untuk menerima peran sebagai pengurus lingkungan, atau yang belum perbah terlibat menjadi terdorong untuk terlibat?
·                Kesimpulan     :
Jika Allah telah mengajarkan kepada kita melalui ajaran Gereja tentang pelayanan, maka sekarang adalah saatnya kita mewujudkan dari harapan Gereja tersebut. Kita harus mampu bangkit dari segala kenikmatan dan kenyamanan diri ini dan berbalik untuk mau melayani dalam Gereja. Melalui keterlibatan kita dalam kegiatan menggereja secara khusus terlibat dalam kepengurusan lingkungan, kita dapat mewujudkan bentuk karya kerasulan kita ini.

T  Langkah kelima:       Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia
·                Pengantar        :
Bapak/Ibu setelah kita berdinamika bersama dalam katekese ini, mungkin ada sebuah semangat dan kekuatan baru. Maka marilah sekarang kita saling meneguhkan dari apa yang kita dapat dengan membangun niat-niat yang akan kita wujudkan dalam pelayanan kita.
b. Membangun Niat-niat
Fasilitator mengajak peserta untuk membangun niat-niat dan memberikan pertanyaan panduan untuk pembuatan niat.
1.  setelah kita berdinamika bersama, adakah keinginan atau harapan bapak ibu untuk mewujudkan aksi nyata demi kemajuan ALingkungan?
2. Niat diaplikasikan dalam bentuk doa (agar apa yang akan kita laksanakan sungguh diberkati oleh Allah dan diberi terang Roh Kudus)

Sesudah itu fasilitator memberi peneguhan kepada peserta.
·                Kesimpulan     :
Dari ajaran Gereja tadi kita telah belajar bahwa hendaknya menjadi pengurus lingkungan itu hendaknya tidak dihayati sebagai sebuah beban, melainkan melayani dengan murah hati, suka cita dan tanggungjawab. Oleh sebab itu marilah mulai saat ini kita wujudkan sikap-sikap yang demikian demi maju dan berkembangnya Gereja dan iman kita.

IV. PENUTUP
a.       Peneguhan
Bapak Ibu yang terkasih, hari ini kita telah belajar bersama ungtuk mendalami peran kita sebagai pengurus di lingkungan. semoga pengalaman yang telah kita dapatka n hari ini dapat menjadi semangat baru bagi kita untuk dapat semakin mampu memberikan diri dalam pelayanan hidup menggereja. Terimakasih atas perhatian dan kerjasama bapak ibu dan kesediaan untuk berpartisipasi secara aktif dalam katekese ini. Saya mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam penyampaian ini. Sampai bertemu di lain kesempatan. Tuhan Memberkati.
Marilah kita tutup acara kita dengan doa…..

           
b. Doa penutup
                        Allah Bapa yang maha pengasih, puji dan syukur kami panjatkan kepada-Mu karna Engkau telah membimbing kami dalam pertumuan ini, semoga kami dapat mewujudkan niat-niat kami dalam karya pelayanan Gereja. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. (Amin)
c. Lagu Penutup “Aku Dengar Bisikan Suara-Mu” (PS.695)




Pelayanan Dalam Hidup Bermasyarakat

Tempat              : Rumah Salah Satu Umat Lingkungan Stasi Walikukun
Waktu               : 19.00-21.00 WIB
Acara                 : Katekese Dewasa
Sub Tema 1       : “Pelayanan Dalam Hidup Bermasyarakat”
Peserta               : Keluarga-keluarga di lingkungan St. Antonius.
Metode              : SCP (Share Cristian Praxis)
Sarana               : Kitab Suci, Film pendek, Laptop, Teks Lagu.
Sumber Bahan :  
|  Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II. 1981. Familiaris Consortio. KWI: Jakarta.
| LBI. 1976.Kitab Suci  Deterokanonika. Lembaga Alkitab Indonesia: Jakarta
| Youtube. 2008. Film Pendek Karya Romo Mangun. Diunduh pada 27 Oktober 2013.
I.     PEMIKIRAN DASAR
          Setelah melakukan pertemuan katekese yang pertama tentang berkarya bagi Allah dalam hidup menggereja, maka sekarang pertemuan katekese ini akan membahas tentangpelayanan kita dalam hidup di tengah masyarakat. Kita umat kristiani telah dipesratukan dalam karya pembaptisan, dengan demikian kita juga mendapat bagian dari tugas Kristus untuk menjadi pewarta Injil-Nya. Sebagai orang kristiani kita harus mampu menjadi garam dan terang dunia, agar semakin banyak orang yang diselamatkan.
          Bagaimana mungkin bisa menjadi garam dan terang dunia di dalam masyarakat yang sangat luas dan beraneka ragam ini? Hal inilah yang harus mulai difikirkan menuju perubahan zaman dengan persaingan yang ketat ini. Penting bagi umat katolik untuk mempersiapkan diri dalam persaingan yang ketat ini agar kita memiliki rasa tanggungjawab sebagai warga Gereja dan warga Negara. Mereka harus mengerti bahwa mereka tidak hidup dalam lingkup yang sempit dan seiman, namun kita hidup di tengah perbedaan suku, budaya dan juga agama.
          Seperti dipaparkan dalam dokumen Gereja Familiaris Consortio, bahwa keluarga-keluarga Kristen harus ikut serta dalam pengembangan masyarakat. Keluarga kristiani mempunyai ikatan vital dan organis dengan masyarakat, karena menjadi dasarnya, dan terus menerus melalui peranan pengabdian kepada kehidupan. Dalam pangkuan keluargalah para warga masyarakat dilahirkan, disitu pulalah mereka menemukan gelanggang latihan pertama bagi keutamaan-keutamaan social, yang merupakan prinsip penjiwaan untuk kehidupan serta perkembangan masyarakat sendiri. Melihat hal itu maka sebagai petugas pastoral perlu memberi dorongan semangat agar umat kristiani dapat terlibat dalam pelayanan dalam masyarakat. Melalui katekese dengan tema “pelayanan dalam hidup bermasyarakat” ini kami ikin menumbuhkan semangat umat kristiani yang berawal dari keluarga untuk terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

II.      Tujuan
Tujuan dari proses katekese ini :
1.        Umat semakin menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat.
2.        Umat memahami makna pelayanan dalam masyarakat dengan terinspirasi dari Injil Matius 5:13-16
3.        Memiliki motivasi untuk berkarya bagi Allah dengan mau terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan.

III. Langkah-langkah
a. Sapaan dari Fasilitator
Selamat malam Bapak/Ibu yang terkasih dalam Kristus. Apa kabar? semoga selalu sehat dan dalam penyertaan Tuhan. Setelah pertemuan pertama kita membahas tentang pelayanan dalam Gereja, hari ini kita berkumpul bersama dengan tema “Pelayanan Dalam Hidup Bermasyarakat ”
Sebelum kita mulai kegiatan mari kita siapkan hati kita masing-masing agar apa yang akan kita bahas ini sungguh bermanfaat bagi karya kita dalam hidup sehari hari. Untuk itu kita akan buka dengan sebuah lagu dan dilanjutkan dengan doa.
b. Lagu PembukaAlangkah Bahagianya (PS. 619)
    c. Doa Pembuka
            Bapa yang maha baik, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau berkenan menaungi kami selalu, hingga kami dapat berkumpul kembali untuk melaksanakan pertemuan katekese ke-dua ini. Semoga apa yang akan kami bahas ini sungguh berkenan bagi Engkau, dan berguna bagi perkembangan dan kehidupan kita di tengah masyarakat dan bagi perkembangan Gereja-Mu. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus, yang bersama Roh Kudus hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.




T Pengembangan Langkah Nol.
Fasilitator mengajak umat menonton film tentang karya Rm. Mangu di tengah masyarakat. Kemudian fasilitator memberikan panduan pertanyaan sebagai berikut:
a. Bapak/Ibu yang terkasih adakah yang menarik dari cuplikan film yang kita tonton tadi?
b. Apa yang menginspirasi Bapak/Ibu yang terkasih? Bagaimanakah karya Rm. Mangun dalam cuplikan film itu?
Fasilitator mengajak umat untuk memasuki langkah awal.
T Langkah pertama : Pengungkapan Praksis Faktual
·      Pengantar :
Setelah kita menonton film tentang “karya Romo Mangun dalam masyarakat”, sekarang marilah kita akan bersama-sama melihat dari pengalaman kita pribadi dalam hidup bermasyarakat.
·      Pengungkapan Pengalaman :
c.       Pernahkah Bapak/Ibu yang terkasih pernah terlibat dalam pelayanan di tengah masyarakat? Coba ceritakanlah pengalaman anda!
d.      Pernahkah Bapak/Ibu yang terkasih sebagai orang Katolik mempunyai keprihatinan terhadap situasi masyarakat? Ceritakanlah!
e.       Dengan cara apakah Bapak/Ibu mewujudkan keprihatinan itu?
·      Kesimpulan:
Sungguh sangat menarik pengalaman yang telah kita sharingkan tadi, memang satu sama lain kita memiliki pengalaman yang berbeda tentang karya di tengah masyarakat. Memang masih banyak hal yang harus kita kembangkan dalam karya di tengah masyarakat, agar apa yang menjadi keprihatinan kita sungguh dapat terselesaikan.

T Langkah kedua    : Refleksi Kritis Pengalaman Faktual
·      Pengantar:
Dari pengalaman Bapak/Ibu yang terkasih tersebut, coba kita cermati perasaan apa saja yang muncul. Entah saat kita telah terlibat dalam suatu karya kemasyarakatan ataupun ketika kita masih sekedar memiliki keinginan.
Fasilitator mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
·         Pendalaman Pengalaman
a. Ketika Bapak/Ibu yang terkasih punya keinginan untuk terlibat dalam pelayanan dalam masyarakat, apakah yang Bapak/Ibu rasakan?
b. Saat keinginan untuk berkarya itu dihadang dengan berbagai kesulitan dan tantangan, bagaimanakah perasaan Bapak/Ibu yang terkasih?
c. Pernahkah Bapak/Ibu yang terkasih sebagai orang katolik terlibat untuk berkarya bagi masyarakat?
e. Cara apa saja yang akan Bapak/Ibu yang terkasih lakukan dalam mewujudkan karya bagi masyarakat, terutama melihat kita sebagai umat katolik?

ª    Kesimpulan
Sering kali saat kita mau ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan banyak godaan yang membuat kita mengurungkan niat itu. Namun kita tidak boleh begitu saja menyerah, karena semua tantangan yang kita hadapi itu merupakan peristiwa yang dapat mengembangkan dan menguatkan kita. Banyak karya yang dapat kita lakukan bagi masyarakat bisa melalui kegiatan social yakni dengan memperhatikan saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus, atau bisa dalam pengabdian kita dalam bidang pendidikan yang bisa membantu meringankan masyarakat. Namun harus tetap kita ingat, bahwa karya kita dalam masyarakatpun harus dijiwai oleh semangat Injili.

T  Langkah ketiga: Mengusahakan Supaya Tradisi Dan Visi  Kristiani Lebih  Terjangkau
ª      Pengantar :
Setelah kita berbagi pengalaman dalam berkarya, marilah pada kesempatan ini kita belajar dari Injil Matius 5:13-16, dimana Yesus bersabda agar kita mampu menjadi garam dan terang dunia.
Garam dunia dan Terang dunia
5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Setelah kita membaca dan mencermati bacaan Injil Matius tadi, maka marilah kita belajar bersama untuk lebih mendalami yang diajarkan Yesus.
a. Menurut Bapak/Ibu yang terkasih Perikop ini  berbicara tentang apa?
b. Apa yang diinginkan Yesus dalam perikop ini bagi kita?
c. Ayat mana yang menurut Bapak/Ibu yang terkasih menarik dari perikop diatas?
ª        Penegasan dari fasilitator
               Bapak/Ibu yang terkasih yang terkasih pada hari ini kita telah belajar dari Injil Matius tentang garam dan terang dunia. Dari ayat ini kita dapat belajar dimana kita harus senantiasa memberikan terang kepada semua orang dimanapun kita berada. Terang akan selalu terlihat dimanapun diletakan, maksudnya adalah dimana kita bisa memberikan karya yang baik dimanapun kita berada, dan dengan siapapun. Entah dalam lingkungan yang menyenangkan bagi kita ataupun tidak. Inilah yang dimaksud dengan terlibat dalam karya masyarakat. Kita juga harus bisa menjadi garam yang memberi rasa, dimana kita menjadi berguna bagi orang lain. Sebagai umat katolik, jangan sampai kita hanya melihat beban bagi orang lain. Namun kita harus bisa memberi warna, dengan kreativitas yang kita miliki.
               Demikianlah yang harus kita perbuat dalam kehidupan bermasyarakat, jangan pernah kita memberikan yang buruk bagi orang lain namun kita harus bisa menghasilkan karya yang lebih bagus lagi. Sepeerti yang telah diajarkan Gereja kepada kita melalui dokumen tentang peran keluarga Kristen (Familiaris Consortio), dimana keluarga Kristen harus turut berperan dalam pemgembangan masyrakat. Keluarga adalah sel utama dalam masyarakat, jadi ketika sel-sel ini mau bergabung dengan karya pelayanan yang baik maka akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi masyarakat. Dengan cara inilah kita dapat menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Gereja harus menunjukkan karyanya dalam masyarakat agar semakin terwujudlah visi dan misi Gereja dalam dunia.



T   Langkah Keempat  :   Interpretasi karya dialektis Antara Praksis dan Visi Peserta dengan Tradisi dan Visi Kristiani
·                Pengantar        :
Setelah kita mendalami apa yang diperintahkan Yesus kepada kita melalui sabda-Nya, maka  marilah kita bersama-sama kita semakin mendalaminya dengan mempertemukan pengalaman kita dengan ajaran gereja yang telah kita pelajari bersama.
Fasilitator mengajak peserta untuk berdialog, dengan pertanyaan pendalaman   sebagai berikut:
·                Pendalaman     :
a. Setelah mendengar penjelasan dari perikop tadi, Pengetahuan baru apa yang  Bapak/Ibu yang terkasih dapatkan?
b. Apakah pengalaman Bapak/Ibu tentang karya pelayanan di tengah masyarakat sudah selaras dengan apa yang ada dalam ajaran Gereja dan sesuai dengan yang diajarkan Allah sendiri?
c. Jika sudah, adakah hal yang masih perlu dikembangkan atau ditingkatkan? Jika belum, apa yang membuat anda belum bisa berkarya bagi Masyarakat?
d. Usaha, sikap, dan perbuatan apa yang sebaiknya Bapak/Ibu lakukan untuk berkarya bagi Masyarakat?
·      Kesimpulan  :
Setelah kita mengetahui banyak hal tentang berkarya bagi Allah, maka tentunya kita semakin mantab dalam sebuah pelayanan dan semangat untuk mewujudkan hal ini. Pasti ada sebuah gambaran berkaitan dengan karya yang akan kita wujudkan sebagai wujud dari keterlibatan kita dalam masyarakat. Yesus Kristus sendiri telah menghendaki kita untuk ambil bagian dalam karya penyelamatan, semoga dengan ini iman kita semakin berkembang dalam mewartakan sabda Allah.

T  Langkah kelima:  Keterlibatan Baru Demi Semakin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia
·                Pengantar        :
Setelah kita berdinamika bersama dalam katekese ini, mungkin ada sebuah semangat dan kekuatan baru dari Bapak/Ibu dan saudara yang terkasih. Maka marilah sekarang kita saling meneguhkan dari apa yang kita dapat dengan membangun niat-niat yang akan kita wujudkan dalam karya kita.
b. Pembuatan Niat
Fasilitator memamndu umat untuk mengutarakan niat-niat yang akan diwujudkan dalama aksi nyata dengan memberikan pertanyaan sebagai berikut:
1.  Aksi nyata apa yang akan Bapak/Ibu yang terkasih lakukan?
2. Niat diaplikasikan dalam bentuk doa (agar apa yang akan kita laksanakan sungguh diberkati oleh Allah dan diberi terang Roh Kudus)

Sesudah itu fasilitator memberi peneguhan kepada umat.
·                Kesimpulan
Karya umat kristiani di tengah masyarakat sungguh memberikan manfaat yang besar bagi Gereja. Dengan kesediaan kita terlibat dalam pelayanan di masyarakat maka kita berperan serta dalam mewujugkan misi Gereja, yakni mewujudkan Kerajaan Allah di seluruh dunia. Semoga kehadiran kita di tengah masyarakat sungguh memberikan dampak yang baik, dan dapat membuat masyarakat yang semakin berkembang dalam kemajuan zaman.

IV. PENUTUP
b.    Peneguhan
Dalam peziarahan hidup ini, kita harus mau dan mampu untuk terlibat dalam hidup kemasyarakatan. Agar kita dapat mewujudkan tugas perutusan kita sebagai murid Kristus, yang bersaksi di tengah kehidupan masyarakat. Semoga apa yang telah kita bahas ini sungguh dapat menjadi kekuatan kita untuk dapat hidup dengan iman yang kuat.  Akhirnya saya mengucapkan terimakasih atas kesediaan Bapak/Ibu dan saudara yang terkasih dalam katekese mala mini. Semoga dengan ini kita dapat semakin bertumbuh bersama dalam membantu karya Gereja demi perkembangan masyarakat. Dan saya mohon maaf apabila ada hal-hal yang tidak berkenan bagi Bapak/Ibu dan saudara yang terkasih. Semoga Tuhan memberkati karya dan aktivitas kita dalam hidup sehari-hari. Amin.

b. Doa penutup
Allah Bapa yang maha pengasih, puji dan syukur kami panjatkan kepada-Mu karena Engkau telah membimbing kami dalam pertumuan ini, semoga kami dapat mewujudkan niat-niat kami dalam karya pelayanan Gereja. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. (Amin)
Bapa Kami….
3x Salam Maria….

c.    Lagu Penutup “Yesus Mengutus Murid-Nya (PS. 692)”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar