PELAYANAN DALAM
KEPENGURUSAN LINGKUNGAN
Tempat : Rumah Salah Satu Umat Lingkungan
Stasi Walikukun
Waktu : 19.00-21.00 WIB
Acara : Katekese Dewasa
Sub Tema 1 : “Pelayanan Dalam Kepengurusan Lingkungan”
Peserta : Keluarga-keluarga di lingkungan
St. Antonius.
Metode : SCP (Share Cristian Praxis)
Sarana : Kitab Suci, Cerita, Laptop, Teks
Lagu.
Sumber Bahan :
| Supama, Marcus Leonard. 2012. Ketua
Lingkungan di Era Sibuk. Kanisius: Yogjakarta.
| LBI.
1976.Kitab Suci Deterokanonika.lembaga
Alkitab Indonesia: Jakarta
I.
PEMIKIRAN
DASAR
Umat beriman adalah anggota Tubuh
Kristus yang dipersatukan dalam pembaptisan, yang mempunyai tugas dan kewajiban
masing-masing sesuai dengan kekhasan mereka. Namun, yang utama adalah kesatuan
tugas mengembangkan visi dan misi Gereja agar tercapai keselamatan. Dalam hal
ini umat menjadi subyek utama, entah umat dalam lingkup paroki, stasi, atau
bahkan lingkungan. Umat di lingkungan sangat menentukan apakah visi dan misi
itu dapat tercapai, karena umat lingkungan merupakan akar. Dengan begitu sangat
diperlukan dukungan dari umat terutama dalam hal pelayanan.
Banyak tokoh dari Gereja yang dapat
kita teladani semangat pelayanannya, contohnya saja Bunda Theresa dari Calcuta.
Ia mengebdikan diri dengan sepenuh hati demi keselamatan dunia, hal itu ia
lakukan sungguh-sungguh karena rasa cintanya kepada Tuhan, Gereja dan dunia. Ia
mengorbankan dirinya dan melayani orang-orang terlantar dengan sepenuh hati dan
dengan ketulusan. Lalu apa yang sudah kita lakukan demi perkembangan Gereja?
Sudahkah kita mengabdikan diri kita ini entah sebagai pengurus lingkungan atau
petugas liturgy?
Menjadi pengurus lingkungan
seakan-akan menjadi momok yang menakutkan. Seakan dipandang begitu berat
tugasnya, dan ada sebagian orang menganggap diri tak layak. Alasannya karena
tidak pintar atau karena kesibukan dalam pekerjaan sehingga menolak untuk
dicalonkan menjadi ketua atau pengurus lingkungan. Maka jika ada yang bersedia
menjadi ketua lingkungan harus diberi apresiasi dengan baik, karena hal ini
sesungguhnya adalah kesanggupan yang luar biasa.
Melihat hal itu tentunya sebagai
petugas pastoral kita tidak bisa hanya diam saja, namun harus berupaya untuk
mendorong umat agar bersedia terlibat aktif dalam pelayanan menggereja.
Kesediaan mereka perlu dibantu dengan pelbagai sarana supaya mereka dapat
mewujudkan pelayanan mereka dengan lebih baik. Katekese dengan tema “Pelayanan Dalam Kepengurusan Lingkungan”
ini adalah satu cara untuk menumbuhkan semangat dalam diri umat agar tergerak
hati untuk bersedia memberikan diri menjadi ketua lingkungan atau pengurus.
Tujuannya adalah agar umat di stasi St. Yosef Pemandi-Walikukun dapat
mewujudkan iman Kristiani mereka secara khusus dalam hidup menggereja. Kami berharap
katekese ini dapat menginspirasi umat untuk mau ambil bagian dalam
mengembangkan Gereja dengan menanggapi panggilan menjadi pengurus di
lingkungan.
II.
Tujuan
Tujuan
dari proses katekese ini :
1. Menumbuhkan
semangat umat untuk mau terlibat dalam kepengurusan lingkungan.
2. Umat
semakin menghayati dirinya sebagi bagian dari lingkungan, dengan cara terlibat
aktif dalam pelayanan di gereja dan lingkungan.
3. Umat
memiliki keberanian untuk memberikan dirinya seutuhnya dalam kegiatan di lingkungan.
III.
Langkah-langkah
a.
Pengantar: Sapaan dari
Fasilitator
Selamat malam Bapak,
Ibu, dan saudara yang terkasih
dalam Kristus. Bagaimana kabarnya? semoga selalu sehat dan dalam
penyertaan Tuhan. Pada sore hari ini kita patut bersyukur
karena pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama. Saya
juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak, Ibu, dan saudara mau meluangkan
waktu untuk hadir dalam katekese malam ini. Dalam katekese ini kita akan
belajar tentang menjadi pelayan dalam kepengurusan di lingkungan. Sebelum kita
mulai proses dinamika pada malam ini, marilah kita mempersiapkan hati dengan
mengawali pertemuan ini dengan nyanyian dan doa.
b.
Lagu Pembuka “Panggilan Tuhan” (PS.682)
c.
Doa Pembuka
Marilah
kita siapkan hati kita untuk masuk ke dalam doa…..
Ya Allah yang maha rahim kami bersyukur
karena kasih-Mu kami masih Kau perkenankan untuk berkumpul bersama dalam
pertemuan mala mini. Terimakasih karena Engkau telah membimbing sepanjang
aktivitas kami hari ini, kini kami berkumpul di tempat ini untuk semakin
mengenal Engkau, dalam pelayanan kami dalam hidup menggereja. Berkatilah pertemuan
kami ini ya Bapa curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami agar dapat kami dapat
menghayati tugas dan tanggungjawab kami sebagai orang Kristen yang sejati.
Semua kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan dan Juru
Selamat kami. Amin.
T Pengembangan Langkah
Nol.
Fasilitator mengajak umat untuk membaca
sebuah cerita. Kemudian fasilitator memberikan panduan pertanyaan sebagai
berikut:
MENGAPA SAYA YANG
TERPILIH?
Tidak pernah ada orang yang bermiimpi
menjadi seorang pengurus lingkungan. demikian dengan salah satu umat yang
bernama Pak Yudas, menjadi ketua lingkungan tak pernah ia inginkan. Namun
hatinya sangat gundah gulana ketika seusai misa Minggu Pak Yudas membaca
selembar warta gereja. Di situ tercantum nama umat yang terpilih menjadi Ketua
Lingkungan. Ketika ia melihat dari atas ke bawah ia berhenti di abjat Y,
namanya tercantum dengan jelas di situ. Itu berarti ia terpilih menjadi salah
satu calon ketua lingkungan. Ada beberapa nama yang diusulkan oleh lingkungan
untuk menjadi calon Ketua Lingkuangan. Dan ia merasa nama-nama lain itu lebih
layak dan pantas untuk menjadi ketua lingkungan.
T Langkah pertama:
Pengungkapan Praksis Faktual
· Pengantar :
Bapak-ibu yang terkasih kita telah
mendengar cerita tentang kegundahan Pak Yudas karena dicalonkan menjadi
pengurus lingkungan. bertolak dari kisah itu maka marilah kita mengungkapkan
pengalaman-pengalaman yang kita alami sebagai umat di lingkungan. Saya yakin
tentunya bapak/ibu mempunyai pengalaman
yang menarik berkaitan dengan dinamika pelayanan dalam lingkungan atau gereja.
·
Pengungkapan Pengalaman
:
a. Apakah
bapak/ibu pernah mengalami peristiwa seperti yang dialami pak Yudas?
b. Jika
bapak/ibu pernah merasakan, tindakan apa yang akan anda lakukan? Coba
ceritakanlah pengalaman anda!
· Kesimpulan
Bapak/ibu yang terkasih
kita telah mendengarkan pengalaman-pengalaman yang menarik dari masing-masing
individu. Semua pengalaman itu tentunya semakin memperkaya kita, dan dapat
menginspirasi kita.
T Langkah kedua :
Refleksi Kritis Pengalaman Faktual
·
Pengantar:
Bapak/ibu yang terkasih dari pengalaman tersebut kita mengetahui
bagaimana menjadi pengurus/ketua lingkungan itu. Marilah sekarang kita coba mencermati dan medalami cerita
itu perasaan apa saja yang muncul. Dengan
pengalaman yang telah bapak/ibu alami.
Fasilitator
mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
ª
Pendalaman Pengalaman
a. Apabila bapak/ibu menjadi
pengurus/ketua lingkungan bagaimana anda menghayati tugas dan tanggungjawab itu?
b. hal apa yang membuat
anda merasa tidak mampu (kesulitan) menjalankan tugas ini?
c. Pernahkah bapak/ibu sebagai orang katolik di
lingkungan terlibat untuk menjadi pelayanan bagi gereja?
ª
Kesimpulan :
Terkadang
memang banyak tantangan dan hambatan ketika kita menjalankan tugas perutusan
kita sebagai umat Katolik. Tidak jarang perasaan-perasaan ego dalam diri kita
menghalangi kita untuk maju. Entah kesibukan atau karena perasaan tidak mampu.
Untuk menjadi seorang ketua lingkungan. Tidak diperlukan seseorang yang pandai
namun orang yang dengan terbuka mau memberikan diri untuk menjalankan tugasnya.
Sebagai umat beriman kita telah dipersatukan untuk mampu terlibat dalam karya
dan misi Gereja. Entah dalam suka maupun duka namun, hal itullah yang harus
kita lakukan. Kita melayani karena kita telah lebih dahulu dilayani oleh Allah.
T Langkah ketiga:
Mengusahakan Supaya Tradisi Dan
Visi Kristiani Lebih Terjangkau
ª
Pengantar :
Setelah kita
berbagi pengalaman, marilah pada kesempatan ini kita belajar dari ajaran Gereja
tentang sebuah pelayanan dalam hidup menggereja. Hari ini kita akan belajar
dari Kitab Suci Kisah Para Rasul 20:17-21
a. Menurut Bapak Ibu Kitab Suci ini berbicara tentang apa?
b. Makna apa yang bapak/ibu dapatkan?
c. Ayat mana yang menurut bapak/ibu
menarik?
ª
Penegasan dari
fasilitator
Bapak,
Ibu yang terkasih, setelah kita mendengarkan bacaan Kitab suci tadi bagaimana
Paulus sungguh melayani Allah dengan rendah hati dan dengan murah hati. Hal
inilah yang harus kita ingat baik-baik dan kita teladani. Melayani dengan murah
hati berarti bagaimana melayani itu dengan penuh kegembiraan dan suka cita.
Pertama-tama yang dipikirkan adalah keselamatan bagi orang lain yang dilayani.
Pelayanan murah hati adalah pelayanan layaknya kita menjadi pengurus
lingkungan, pelayanan tanpa hitung-hitungan. Maksudnya adalah pelayanan kita
ini tidak pernah diukur dengan uang. Ya, memang banyak pengorbanan yang
dilakukan terkait dengan tenaga, pikiran, dan juga biaya. Namun apa yang kita
lakukan ini sungguh mempunyai nilai lebih di mata Allah. Kita membantu orang
lain untuk sampai kepada keselamatan.
Menjadi
pengurus lingkungan adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat.
Ketua lingkungan adalah kaum awam. Pengertian awam secara positif yang kita
jumpai dalam LG mengatakan, bahwa berkat baptis mereka telah dipersatukan
dengan Kristus dan dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas kenabian,
imamat, dan rajawi Kristus. Dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka
melaksanakan perutusan dalam Gereja. Dengan ini Gereja menunjukkan bahwa mereka
bukanlah orang yang tidak tahu apa-apa tetapi memiliki peran penting dalam
karya pastoral di lingkungan. Melalui pelayanan sebagai pengurus/ketua
lingkunagan berarti melaksanakan kerasulan awam dalam Gereja sekaligus dunia.
Hal ini terjadi karena pelayanan saeorang ketua lingkungan juga bersentuhan
dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.
T Langkah Keempat : Interpretasi
karya dialektis Antara Praksis dan
Visi Peserta dengan
Tradisi dan Visi Kristiani
·
Pengantar :
Setelah kita mendalami apa yang
diperintahkan Yesus kepada kita melalui ajaran gereja, tentang berkarya bagi
Gereja. Maka marilah kita bersama-sama semakin mendalami dengan mempertemukan
pengalaman kita dengan ajaran gereja yang telah kita pelajari bersama.
Fasilitator
mengajak peserta untuk berdialog, dengan pertanyaan pendalaman sebagai berikut:
·
Pendalaman :
a.
Setelah mendengar penjelasan dari Kitab Suci
tadi, apakah memberikan motivasi kepada kita
untuk menerima peran sebagai pengurus lingkungan, atau yang belum perbah terlibat
menjadi terdorong untuk terlibat?
·
Kesimpulan :
Jika Allah telah mengajarkan kepada kita
melalui ajaran Gereja tentang pelayanan, maka sekarang adalah saatnya kita
mewujudkan dari harapan Gereja tersebut. Kita harus mampu bangkit dari segala
kenikmatan dan kenyamanan diri ini dan berbalik untuk mau melayani dalam
Gereja. Melalui keterlibatan kita dalam kegiatan menggereja secara khusus
terlibat dalam kepengurusan lingkungan, kita dapat mewujudkan bentuk karya
kerasulan kita ini.
T Langkah kelima: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya
Kerajaan Allah di
Dunia
·
Pengantar :
Bapak/Ibu setelah kita berdinamika
bersama dalam katekese ini, mungkin ada sebuah semangat dan kekuatan baru. Maka
marilah sekarang kita saling meneguhkan dari apa yang kita dapat dengan membangun
niat-niat yang akan kita wujudkan dalam pelayanan kita.
b. Membangun Niat-niat
Fasilitator
mengajak peserta untuk membangun niat-niat dan memberikan pertanyaan panduan
untuk pembuatan niat.
1. setelah kita berdinamika bersama, adakah
keinginan atau harapan bapak ibu untuk mewujudkan aksi nyata demi kemajuan
ALingkungan?
2. Niat diaplikasikan dalam bentuk doa
(agar apa yang akan kita laksanakan sungguh diberkati oleh Allah dan diberi
terang Roh Kudus)
Sesudah
itu fasilitator memberi peneguhan kepada peserta.
·
Kesimpulan :
Dari ajaran Gereja tadi kita telah
belajar bahwa hendaknya menjadi pengurus lingkungan itu hendaknya tidak
dihayati sebagai sebuah beban, melainkan melayani dengan murah hati, suka cita
dan tanggungjawab. Oleh sebab itu marilah mulai saat ini kita wujudkan
sikap-sikap yang demikian demi maju dan berkembangnya Gereja dan iman kita.
IV.
PENUTUP
a.
Peneguhan
Bapak
Ibu yang terkasih, hari ini kita telah belajar bersama ungtuk mendalami peran
kita sebagai pengurus di lingkungan. semoga pengalaman yang telah kita dapatka
n hari ini dapat menjadi semangat baru bagi kita untuk dapat semakin mampu
memberikan diri dalam pelayanan hidup menggereja. Terimakasih atas perhatian
dan kerjasama bapak ibu dan kesediaan untuk berpartisipasi secara aktif dalam
katekese ini. Saya mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam
penyampaian ini. Sampai bertemu di lain kesempatan. Tuhan Memberkati.
Marilah
kita tutup acara kita dengan doa…..
b.
Doa penutup
Allah
Bapa yang maha pengasih, puji dan syukur kami panjatkan kepada-Mu karna Engkau
telah membimbing kami dalam pertumuan ini, semoga kami dapat mewujudkan
niat-niat kami dalam karya pelayanan Gereja.
Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. (Amin)
c. Lagu
Penutup “Aku Dengar Bisikan Suara-Mu” (PS.695)
Pelayanan
Dalam Hidup Bermasyarakat
Tempat : Rumah Salah Satu Umat Lingkungan
Stasi Walikukun
Waktu : 19.00-21.00 WIB
Acara : Katekese Dewasa
Sub Tema 1 : “Pelayanan Dalam Hidup Bermasyarakat”
Peserta : Keluarga-keluarga di lingkungan
St. Antonius.
Metode : SCP (Share Cristian Praxis)
Sarana : Kitab Suci, Film pendek, Laptop,
Teks Lagu.
Sumber Bahan :
| Anjuran Apostolik Sri Paus
Yohanes Paulus II. 1981. Familiaris Consortio. KWI: Jakarta.
|
LBI.
1976.Kitab Suci Deterokanonika. Lembaga
Alkitab Indonesia: Jakarta
|
Youtube.
2008. Film Pendek Karya Romo Mangun. Diunduh pada 27 Oktober 2013.
I.
PEMIKIRAN
DASAR
Setelah melakukan pertemuan katekese
yang pertama tentang berkarya bagi Allah dalam hidup menggereja, maka sekarang
pertemuan katekese ini akan membahas tentangpelayanan kita dalam hidup di
tengah masyarakat. Kita umat kristiani telah dipesratukan dalam karya
pembaptisan, dengan demikian kita juga mendapat bagian dari tugas Kristus untuk
menjadi pewarta Injil-Nya. Sebagai orang kristiani kita harus mampu menjadi
garam dan terang dunia, agar semakin banyak orang yang diselamatkan.
Bagaimana mungkin bisa menjadi garam
dan terang dunia di dalam masyarakat yang sangat luas dan beraneka ragam ini?
Hal inilah yang harus mulai difikirkan menuju perubahan zaman dengan persaingan
yang ketat ini. Penting bagi umat katolik untuk mempersiapkan diri dalam persaingan
yang ketat ini agar kita memiliki rasa tanggungjawab sebagai warga Gereja dan
warga Negara. Mereka harus mengerti bahwa mereka tidak hidup dalam lingkup yang
sempit dan seiman, namun kita hidup di tengah perbedaan suku, budaya dan juga
agama.
Seperti dipaparkan dalam dokumen
Gereja Familiaris Consortio, bahwa keluarga-keluarga Kristen harus ikut serta
dalam pengembangan masyarakat. Keluarga kristiani mempunyai ikatan vital dan
organis dengan masyarakat, karena menjadi dasarnya, dan terus menerus melalui
peranan pengabdian kepada kehidupan. Dalam pangkuan keluargalah para warga
masyarakat dilahirkan, disitu pulalah mereka menemukan gelanggang latihan
pertama bagi keutamaan-keutamaan social, yang merupakan prinsip penjiwaan untuk
kehidupan serta perkembangan masyarakat sendiri. Melihat hal itu maka sebagai petugas
pastoral perlu memberi dorongan semangat agar umat kristiani dapat terlibat
dalam pelayanan dalam masyarakat. Melalui katekese dengan tema “pelayanan dalam hidup bermasyarakat” ini
kami ikin menumbuhkan semangat umat kristiani yang berawal dari keluarga untuk
terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
II.
Tujuan
Tujuan
dari proses katekese ini :
1.
Umat semakin menyadari
bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat.
2.
Umat memahami makna pelayanan dalam
masyarakat dengan terinspirasi dari Injil Matius 5:13-16
3.
Memiliki motivasi
untuk berkarya bagi Allah dengan mau terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan.
III.
Langkah-langkah
a. Sapaan dari Fasilitator
Selamat malam Bapak/Ibu yang terkasih dalam Kristus. Apa kabar? semoga
selalu sehat dan dalam penyertaan Tuhan. Setelah pertemuan
pertama kita membahas tentang pelayanan dalam Gereja, hari ini kita berkumpul
bersama dengan tema “Pelayanan Dalam Hidup Bermasyarakat ”
Sebelum kita
mulai kegiatan mari kita siapkan hati kita masing-masing agar apa yang akan
kita bahas ini sungguh bermanfaat bagi karya kita dalam hidup sehari hari.
Untuk itu kita akan buka dengan sebuah lagu dan dilanjutkan dengan doa.
b. Lagu Pembuka “Alangkah Bahagianya” (PS. 619)
c. Doa Pembuka
Bapa yang maha baik, kami bersyukur
kepada-Mu karena Engkau berkenan menaungi kami selalu, hingga kami dapat
berkumpul kembali untuk melaksanakan pertemuan katekese ke-dua ini. Semoga apa
yang akan kami bahas ini sungguh berkenan bagi Engkau, dan berguna bagi
perkembangan dan kehidupan kita di tengah masyarakat dan bagi perkembangan
Gereja-Mu. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus, yang bersama Roh
Kudus hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
T Pengembangan Langkah
Nol.
Fasilitator mengajak umat
menonton film tentang karya Rm. Mangu di tengah masyarakat. Kemudian fasilitator
memberikan panduan pertanyaan sebagai berikut:
a. Bapak/Ibu yang terkasih adakah yang menarik
dari cuplikan film yang kita tonton tadi?
b. Apa yang menginspirasi Bapak/Ibu
yang terkasih? Bagaimanakah
karya Rm. Mangun dalam cuplikan film itu?
Fasilitator mengajak umat
untuk memasuki langkah awal.
T Langkah pertama : Pengungkapan Praksis Faktual
· Pengantar :
Setelah
kita menonton film tentang “karya Romo Mangun dalam masyarakat”, sekarang
marilah kita akan
bersama-sama melihat dari pengalaman
kita pribadi dalam hidup bermasyarakat.
·
Pengungkapan Pengalaman
:
c. Pernahkah Bapak/Ibu yang terkasih pernah
terlibat dalam pelayanan di tengah masyarakat? Coba ceritakanlah pengalaman anda!
d. Pernahkah
Bapak/Ibu yang terkasih sebagai orang Katolik mempunyai keprihatinan terhadap
situasi masyarakat? Ceritakanlah!
e. Dengan
cara apakah Bapak/Ibu mewujudkan keprihatinan itu?
· Kesimpulan:
Sungguh sangat menarik pengalaman yang telah
kita sharingkan tadi, memang satu sama lain kita memiliki pengalaman yang
berbeda tentang karya di tengah masyarakat. Memang masih banyak hal yang harus
kita kembangkan dalam karya di tengah masyarakat, agar apa yang menjadi
keprihatinan kita sungguh dapat terselesaikan.
T Langkah kedua :
Refleksi Kritis Pengalaman Faktual
· Pengantar:
Dari pengalaman Bapak/Ibu yang
terkasih tersebut,
coba kita cermati perasaan apa saja yang muncul. Entah saat kita
telah terlibat dalam suatu karya kemasyarakatan ataupun ketika kita masih
sekedar memiliki keinginan.
Fasilitator
mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
·
Pendalaman Pengalaman
a. Ketika Bapak/Ibu yang terkasih punya keinginan untuk terlibat
dalam pelayanan dalam masyarakat,
apakah yang Bapak/Ibu rasakan?
b.
Saat keinginan untuk berkarya itu dihadang
dengan berbagai kesulitan dan tantangan,
bagaimanakah perasaan Bapak/Ibu yang terkasih?
c. Pernahkah Bapak/Ibu yang terkasih sebagai
orang katolik terlibat untuk berkarya bagi masyarakat?
e. Cara
apa saja yang akan Bapak/Ibu yang terkasih lakukan dalam mewujudkan karya
bagi masyarakat, terutama melihat kita sebagai umat katolik?
ª
Kesimpulan
Sering
kali saat kita mau ikut terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan banyak godaan
yang membuat kita mengurungkan niat itu. Namun kita tidak boleh begitu saja
menyerah, karena semua tantangan yang kita hadapi itu merupakan peristiwa yang
dapat mengembangkan dan menguatkan kita. Banyak karya yang dapat kita lakukan
bagi masyarakat bisa melalui kegiatan social yakni dengan memperhatikan
saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus, atau bisa dalam pengabdian kita
dalam bidang pendidikan yang bisa membantu meringankan masyarakat. Namun harus tetap
kita ingat, bahwa karya kita dalam masyarakatpun harus dijiwai oleh semangat
Injili.
T Langkah ketiga:
Mengusahakan Supaya Tradisi Dan
Visi Kristiani Lebih Terjangkau
ª
Pengantar :
Setelah
kita berbagi pengalaman dalam berkarya, marilah pada kesempatan ini kita
belajar dari Injil Matius 5:13-16, dimana Yesus bersabda agar kita mampu
menjadi garam dan terang dunia.
Garam dunia dan Terang dunia
5:13
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu
adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin
tersembunyi.
5:15
Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang,
melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat
perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Setelah kita membaca dan mencermati
bacaan Injil Matius tadi, maka marilah kita belajar bersama untuk lebih
mendalami yang diajarkan Yesus.
a. Menurut Bapak/Ibu yang terkasih
Perikop ini berbicara tentang apa?
b. Apa
yang diinginkan Yesus dalam perikop ini bagi kita?
c. Ayat mana yang menurut Bapak/Ibu yang
terkasih menarik dari perikop diatas?
ª
Penegasan dari
fasilitator
Bapak/Ibu
yang terkasih yang terkasih pada hari ini kita telah belajar dari Injil Matius
tentang garam dan terang dunia. Dari ayat ini kita dapat belajar dimana kita
harus senantiasa memberikan terang kepada semua orang dimanapun kita berada.
Terang akan selalu terlihat dimanapun diletakan, maksudnya adalah dimana
kita bisa memberikan karya yang baik dimanapun kita berada, dan dengan
siapapun. Entah dalam lingkungan yang menyenangkan bagi kita ataupun tidak.
Inilah yang dimaksud dengan terlibat dalam karya masyarakat. Kita juga
harus bisa menjadi garam yang memberi rasa, dimana kita menjadi berguna bagi
orang lain. Sebagai umat katolik, jangan sampai kita hanya melihat beban bagi
orang lain. Namun kita harus bisa memberi warna, dengan kreativitas yang kita
miliki.
Demikianlah
yang harus kita perbuat dalam kehidupan bermasyarakat, jangan pernah kita
memberikan yang buruk bagi orang lain namun kita harus bisa menghasilkan karya
yang lebih bagus lagi. Sepeerti yang telah diajarkan Gereja kepada kita melalui
dokumen tentang peran keluarga Kristen (Familiaris Consortio), dimana keluarga
Kristen harus turut berperan dalam pemgembangan masyrakat. Keluarga adalah sel
utama dalam masyarakat, jadi ketika sel-sel ini mau bergabung dengan karya
pelayanan yang baik maka akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi masyarakat.
Dengan cara inilah kita dapat menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Gereja
harus menunjukkan karyanya dalam masyarakat agar semakin terwujudlah visi dan
misi Gereja dalam dunia.
T
Langkah
Keempat : Interpretasi
karya dialektis Antara Praksis dan
Visi Peserta dengan
Tradisi dan Visi Kristiani
·
Pengantar :
Setelah kita mendalami apa yang
diperintahkan Yesus kepada kita melalui sabda-Nya, maka marilah kita bersama-sama kita semakin
mendalaminya dengan mempertemukan pengalaman kita dengan ajaran gereja yang
telah kita pelajari bersama.
Fasilitator
mengajak peserta untuk berdialog, dengan pertanyaan pendalaman sebagai berikut:
·
Pendalaman :
a. Setelah mendengar penjelasan dari
perikop tadi, Pengetahuan baru apa
yang Bapak/Ibu
yang terkasih dapatkan?
b. Apakah pengalaman Bapak/Ibu tentang karya pelayanan di tengah
masyarakat sudah selaras dengan apa yang
ada dalam ajaran Gereja dan sesuai dengan yang diajarkan Allah sendiri?
c. Jika sudah, adakah hal yang masih
perlu dikembangkan atau ditingkatkan? Jika belum, apa yang membuat anda belum
bisa berkarya bagi Masyarakat?
d. Usaha, sikap, dan perbuatan apa yang
sebaiknya Bapak/Ibu lakukan untuk berkarya
bagi Masyarakat?
·
Kesimpulan :
Setelah kita mengetahui banyak hal
tentang berkarya bagi Allah, maka tentunya kita semakin mantab dalam sebuah
pelayanan dan semangat untuk mewujudkan hal ini. Pasti ada sebuah gambaran
berkaitan dengan karya yang akan kita wujudkan sebagai wujud dari keterlibatan
kita dalam masyarakat. Yesus Kristus sendiri telah menghendaki kita untuk ambil
bagian dalam karya penyelamatan, semoga dengan ini iman kita semakin berkembang
dalam mewartakan sabda Allah.
T Langkah kelima: Keterlibatan Baru Demi Semakin Terwujudnya
Kerajaan Allah di
Dunia
·
Pengantar :
Setelah kita berdinamika bersama dalam
katekese ini, mungkin ada sebuah semangat dan kekuatan baru dari Bapak/Ibu dan
saudara yang terkasih. Maka marilah sekarang kita saling meneguhkan dari apa
yang kita dapat dengan membangun niat-niat yang akan kita wujudkan dalam karya
kita.
b. Pembuatan Niat
Fasilitator
memamndu umat untuk mengutarakan niat-niat yang akan diwujudkan dalama aksi
nyata dengan memberikan pertanyaan sebagai berikut:
1. Aksi nyata apa yang akan Bapak/Ibu yang terkasih lakukan?
2. Niat diaplikasikan dalam bentuk doa
(agar apa yang akan kita laksanakan sungguh diberkati oleh Allah dan diberi
terang Roh Kudus)
Sesudah
itu fasilitator memberi peneguhan kepada umat.
·
Kesimpulan
Karya umat kristiani di tengah
masyarakat sungguh memberikan manfaat yang besar bagi Gereja. Dengan kesediaan
kita terlibat dalam pelayanan di masyarakat maka kita berperan serta dalam
mewujugkan misi Gereja, yakni mewujudkan Kerajaan Allah di seluruh dunia. Semoga
kehadiran kita di tengah masyarakat sungguh memberikan dampak yang baik, dan
dapat membuat masyarakat yang semakin berkembang dalam kemajuan zaman.
IV.
PENUTUP
b.
Peneguhan
Dalam
peziarahan hidup ini, kita harus mau dan mampu untuk terlibat dalam hidup kemasyarakatan.
Agar kita dapat mewujudkan tugas perutusan kita sebagai murid Kristus, yang
bersaksi di tengah kehidupan masyarakat. Semoga apa yang telah kita bahas ini
sungguh dapat menjadi kekuatan kita untuk dapat hidup dengan iman yang kuat. Akhirnya saya mengucapkan terimakasih atas
kesediaan Bapak/Ibu dan saudara yang terkasih dalam katekese mala mini. Semoga
dengan ini kita dapat semakin bertumbuh bersama dalam membantu karya Gereja
demi perkembangan masyarakat. Dan saya mohon maaf apabila ada hal-hal yang
tidak berkenan bagi Bapak/Ibu dan saudara yang terkasih. Semoga Tuhan
memberkati karya dan aktivitas kita dalam hidup sehari-hari. Amin.
b. Doa penutup
Allah Bapa yang maha pengasih, puji dan
syukur kami panjatkan kepada-Mu karena Engkau telah membimbing kami dalam
pertumuan ini, semoga kami dapat mewujudkan niat-niat kami dalam karya
pelayanan Gereja.
Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. (Amin)
Bapa Kami….
3x Salam Maria….
c. Lagu
Penutup “Yesus Mengutus Murid-Nya (PS. 692)”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar