Rabu, 05 Maret 2014

Katekese SCP "Memaknai Sakit"

MEMAKNAI SAKIT

Tempat              : Rumah Salah Satu Umat Lingkungan Stasi Walikukun
Waktu               : 19.00-21.00 WIB
Acara                 : Katekese Dewasa
Sub Tema 1       : “Memaknai Sakit”
Peserta               : Keluarga-keluarga di lingkungan St. Antonius.
Metode              : SCP (Share Cristian Praxis)
Sarana               : Kitab Suci, Cerita, Laptop, Teks Lagu.
Sumber Bahan : 
|  Katekismus Gereja Katolik.

I.     PEMIKIRAN DASAR
          “Tuhan Yesus setia.” (2 Tes 3:3) Ini adalah janji Tuhan yang selalu ditepati-Nya. Terutama dalam keadaan sakit, saat kita tidak lagi dapat mengandalkan manusia, kita dapat bersandar pada janji Tuhan ini. Memang, pada saat kita sakit dan menderita, kita justru dapat lebih memahami sengsara Yesus pada saat memanggul salibNya ke gunung Kalvari, sehingga kita sungguh dapat merasakan persatuan dengan Yesus. Janganlah kita lupa bahwa pada saat yang sulit ini, Tuhan Yesus rindu untuk mempersatukan kita dengan DiriNya, agar kita memperoleh jamahan-Nya. Syukur kepada Tuhan, Gereja memiliki Sakramen Urapan Orang Sakit, yang menjadi tanda penyertaan Kristus, sarana pengurapan dan penyembuhan orang sakit, yang dapat mendatangkan rahmat yang luar biasa, entah berupa kesembuhan rohani, jasmani, ataupun keduanya, atau jika waktunya telah tiba, merupakan persiapan bagi kita untuk bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Oleh sebab itu sebagai seorang kristiani haruslah mampu memaknai sakit yang dialami. Melalui katekese ini umat diajak untuk mengetahui tentang bagaimana Gereja mengajarkan kepada kita soal sakit sehingga ketika umat mengalami peristiwa itu mereka dapat bertahan dalam iman yang teguh, dan tetap percaya bahwa Yesus adalah penolong.


II.      Tujuan
Tujuan dari proses katekese ini :
1.      Umat dapat memaknai sakit yang dialaminya.
2.      Umat semakin menyadari bahwa Kristus adalah tabib sejati.
III.   Langkah-langkah
a.    Pengantar: Sapaan dari Fasilitator
Selamat malam Bapak, Ibu, dan saudara yang terkasih dalam Kristus. Bagaimana kabarnya? semoga selalu sehat dan dalam penyertaan Tuhan. Pada sore hari ini kita patut bersyukur karena pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak, Ibu, dan saudara berkenan meluangkan waktu untuk hadir dalam katekese malam ini. Dalam katekese ini kita akan bagaimana memaknai sakit. Sebelum kita mulai proses dinamika pada malam ini, marilah kita mempersiapkan hati dengan mengawali pertemuan ini dengan nyanyian dan doa.

b.      Lagu Pembuka “Tuhan Yesus Sembuhkanlah Kami (MB………..)
c.        Doa Pembuka
Marilah kita siapkan hati kita untuk masuk ke dalam doa…..
            Ya Allah yang maha rahim kami bersyukur karena kasih-Mu kami masih Kau perkenankan untuk berkumpul bersama dalam pertemuan mala mini. Terimakasih karena Engkau telah membimbing sepanjang aktivitas kami hari ini, kini kami berkumpul di tempat ini untuk semakin mengenal Engkau, dalam pelayanan kami dalam hidup menggereja. Berkatilah pertemuan kami ini ya Bapa curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami agar dapat kami dapat menghayati tugas dan tanggungjawab kami sebagai orang Kristen yang sejati. Semua kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

T Pengembangan Langkah Nol.
            Fasilitator mengajak umat untuk mengamati sebuah gambar tentang orang sakit. Kemudian fasilitator memberikan panduan pertanyaan sebagai berikut:
a.       bapak ibu yang terkasih mari kita amati apa yang ada digambar ini? Apakah bapak/ibu pernah mengalami peristiwa seperti yang ada digambar tadi?
b.    Jika bapak/ibu pernah merasakan, tindakan apa yang anda lakukan? Coba ceritakanlah pengalaman anda!





T Langkah pertama: Pengungkapan Pengalaman
·            Pengantar        :
Bapak-ibu yang terkasih kita telah melihat beberapa gambar tentang orang sakit. Saya yakin tentunya kita yang hadir disini pernah mengalami peristiwa itu dalam kehidupan sehari-hari. Pengungkapan Pengalaman :
1.      Bapak ibu yang terkasih terkadang ketika sakit itu dimaknai sebagai saat istirahat bagi kita, tetapi tidak hanya itu ada banyak lagi yang lain. Coba ceritakan pengalaman sakit yang sungguh anda rasakan, dan bagaimana anda memaknai sakit anda?
·     Kesimpulan
Bapak/ibu yang terkasih kita telah mendengarkan pengalaman-pengalaman yang menarik dari masing-masing individu. Semua pengalaman itu tentunya semakin memperkaya kita, dan dapat menginspirasi kita.
T  Langkah kedua         : Mendalami memaknai Pengalaman sakit
·           Pengantar:
Bapak/ibu yang terkasih dari pengalaman tersebut kita mengetahui bagaimana rasanya sakit. Marilah sekarang kita coba mencermati dan medalami cerita itu perasaan apa saja yang muncul. Dengan pengalaman yang telah bapak/ibu alami.
Fasilitator mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
ª        Pendalaman Pengalaman
a. Apabila bapak/ibu mengalami peristiwa sakit, bagaimana anda menghayati peristiwa itu?
b. apakah ada orang yang setelah sakit justru lebih baik hidupnya?
(menelusuri lebih dalam sejarah bagaimana memaknai sakit yang dialaminya)
ª    Kesimpulan :
Terkadang memang banyak tantangan dan hambatan dalam kehidupan kita, salah satunya adalah sakit. Sakit dapat melemahkan kitya, dapat membuat kita merasa takut dan tidak berdaya. Tetapi bapak ibu kita harus percaya kita punya tabib yang sejati yang bisa menyembuhkan kita dari segala penyakit, yakni Kristus sendiri.




T  Langkah ketiga: Ajaran Gereja Tentang Sakit (masuk ke poin2 dilengkapi dengan kutipan katekismus, KS, dan contoh konkrit)
ª      Pengantar :
             Setelah kita berbagi pengalaman, marilah pada kesempatan ini kita belajar dari ajaran Gereja tentang bagaimana kita memaknai sakit. Hari ini kita akan belajar dari Katekismus Gereja Katolik.
AJARAN GEREJA MEMAKNAI SAKIT
1)      Sakit menjadi sarana atau jalan menuju pertobatan seseorang
Hal ini dibahas dalam KGK 1502 “Penyakit menjadi jalan menuju pertobatan dan karena pengampunan oleh Allah, terjadilah penyembuhan…” Ketika sehat orang ini sibuk dengan aktivitasnya sampai-sampai lupa berdoa dan ke-gereja, namun ketika sakit lalu ia ingat berdoa dan minta pertolongan. Tidak jarang hidupnya menjadi lebih baik dan aktif dalam kehidupan menggereja.
2)      Sakit menjadi kesempatan menghayati penderitaan Yesus
KGK 1505 “Di kayu salib Kristus menanggung seluruh beban Ia "menghapus dosa dunia" (Yoh 1:29), yang adalah sebab bagi penyakit. Oleh sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, Kristus memberi arti baru kepada penderitaan: Ia dapat membuat kita menyerupai-Nya dan dapat menyatukan kita dengan sengsara-Nya yang menyelamatkan.”
3)      Sakit dapat menjadikan manusia sebagai pribadi yang semakin matang.
KGK 1502 “penyakit dapat membuat manusia menjadi lebih matang, dapat membuka matanya untuk apa yang tidak penting dalam kehidupannya, sehingga ia berpaling kepada hal-hal yang penting.” Setelah sakit orang akan semakin dewasa dalam hidup, yakni tahu bagaimana merawat kesehatan, pola makan, dls. Dan dia akan semakin memperhatikan keluarganya.
4)      Sakit dapat menjadi sebagai penderitaan paling berat dalam hidup manusia
KGK 1500 “Penyakit dan sengsara sejak dahulu kala termasuk percobaan yang paling berat dalam kehidupan manusia. Di dalam penyakit manusia mengalami ketidak-mampuan, keterbatasan, dan kefanaannya.” Ketika sakit orang menjadi ia menjadi tidak berdaya, tidak bisa melakukan aktivitas namun hanya rasa sakit yang ada. Dan letak percobaannya adalah ketika sudah tidak bisa menahan sakitnya dia akan memilih untuk mati saja.
5)      Sakit dapat menjadi perjalanan terhadap kematian
KGK 1500 “Setiap penyakit dapat mengingatkan kita akan kematian.”

6)      Sakit dapat menjadi ujian kesetiaan terhadap Tuhan
Ketika sakit kita diuji untuk tetap setia dengan Tuhan. Biasanya ketika orang sakit berfikir apakah Tuhan tidak mendengar doaku, untuk apa aku berdoa lagi? Dan ada fikiran untuk lari ke para normal atau dukun. Sehingga ketika sakit kita diuji apakah masih sanggup untuk setia dengan Tuhan.
7)      Sakit dapat menjadi silih hukum dari dosa diri sendiri maupun orang lain
KGK 1502 “Nabi Yesaya mengerti bahwa sengsara juga dapat mempunyai arti penyilihan bagi orang-orang lain .. Ia mengumumkan bahwa Allah akan mendatangkan bagi Sion suatu waktu, di mana Ia akan mengampuni setiap kesalahan dan akan menyembuhkan setiap penyakit.” Sakit bisa dikatakan sebagai akibat dari dosa yang kita lakukan ataupun orang lain. Sehingga ketika kita sakit yang begitu dahsyat persembahkan rasa sakit itu kepada Tuhan sebagai silih hokum atasa dosa kita atau saudara.
8)      Sakit dapat menjadi silih bagi jiwa-jiwa yang berada di api pencucian
Sakit yang kita alami dapat menjadi silih akan dosa yang telah diperbuat oleh leluhur kita yang masih di api pencucian. Sehingga ketika sakit ini menyerang kita persembahkan kepada Tuhan sebagai silih untuk keluarga atau leluhur yang ada di api pencucian “Tuhan biarkan sakit ini kupersembahkan untuk jiwirahat da yang ada di api pencucian, untuk mengurangi dosa selama hidupnya”
9)      Sakit dapat menjadi saat istirahat, dan menemukan kehendak Allah.
Ketika sakit orang akan beristirahat dari aktivitas kesehariannya, kesibukannya. Ini akan menjadi saat beristirahat dan mulai menemukan kehendak Tuhan dan menyadari Tuhan mungkin dengan sakit ini aku dapat semakin mengerti kehendakmu dan beristirahat.
10)  Sakit dapat menjadi kesempatan mendapatkan/merasakan kasih dari orang-orang terdekat.
Ketika sakit maka orang terdekat, saudara dan tetangga akan hadir mengunjungi kita dan mencurahkan perhatiannya bagi kita. Dengan begitu kita akan merasakan cinta kasihnya kepada kita.
Bapak ibu dan saudara yang terkasih setelah kita mendengarkan ajaran Gereja tentang memaknai sakit, mari kita mendaliminya:
1.      Bagaimana pendapat bapak/ibu berkaitan dengan ajaran Gereja yang telah kita pelajari tadi?
2.      Makna apa yang bapak/ibu dapatkan?
3.      Bagian mana yang menurut bapak/ibu menarik?



ª         Penegasan dari fasilitator
                           Bapak, Ibu yang terkasih, setelah kita mendengarkan ajaran dari Katekismus Gereja Katolik tentang sakit tadi kita semakin tahu dan dapat memaknai peristiwa sakit yang kita alami dalam kehidupan kita. Sakit bukanlah suatu musibah namun sakit adalah suatu peristiwa dimana kita dapat merasakan penderitaan Yesus di kayu salib, yang jauh lebih menderita dari pada sakit yang kita alami. Namun Kristus hadir menjamah dan menyembuhkan seperti kita tahu dalam Injil Ia menyembuhkan pemuda di Naim, orang buta, orang lumpuh dan lain sebagainya. Yang Ia inginkan hanyalah kita percaya kepada-Nya karena iman kita yang dapat menyembuhkan. Memang dalam sakit mengingatkan kita akan peristiwa kematian, namun kematianlah yang membawa kita bersatu bersama Allah di surga. Semoga dengan pengajaran ini kita semakin dikuatkan dalam menghadapi peristiwa sakit yang kita alami.

T  Langkah Keempat  :   Menyatukan Pengalaman Hidup dan Pengalaman Iman
·                Pengantar        :
Setelah kita mendalami apa yang diperintahkan Yesus kepada kita melalui ajaran gereja, tentang bagaimana memaknai sakit. Maka marilah kita bersama-sama semakin mendalami dengan mempertemukan pengalaman kita dengan ajaran gereja yang telah kita pelajari bersama.
Fasilitator mengajak peserta untuk berdialog, dengan pertanyaan pendalaman   sebagai berikut:
·                Pendalaman     :
a. Setelah mendengar pengalaman dan juga penjelasan dari ajaran Gereja tadi, apa yang Tuhan ajarkan kepada  kita malam ini tentang sakit? Poin penting apa yang bapak/ibu dapatkan?
·                Kesimpulan     :
Jika tadi kita sudah mengetahui tentang ajaran Gereja mengenai peristiwa sakit, maka sekarang adalah saatnya kita mewujudkan ajaran itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga dengan demikian kita tidak akan takut lagi dalam menghadapi sakit, karena dengan sakit kita akan dipersatukan dengan peristiwa penderitaan Yesus Kristus di kayu salib.




T  Langkah kelima:       Membuat Rencana Pembaharuan
·                Pengantar        :
Bapak/Ibu setelah kita berdinamika bersama dalam katekese ini, mungkin ada sebuah semangat dan kekuatan baru. Maka marilah sekarang kita saling meneguhkan dari apa yang kita dapat dengan membangun niat-niat yang akan kita wujudkan dalam pelayanan kita.
b. Membangun Niat-niat
Fasilitator mengajak peserta untuk membangun niat-niat dan memberikan pertanyaan panduan untuk pembuatan niat.
1.  setelah kita belajar bersama langkah baru apa yang ingin bapak/ibu wujudkan?
2. Niat diaplikasikan dalam bentuk doa (agar apa yang akan kita laksanakan sungguh diberkati oleh Allah dan diberi terang Roh Kudus)

Sesudah itu fasilitator memberi peneguhan kepada peserta.
·                Kesimpulan     :
Dari ajaran Gereja tadi kita telah belajar bahwa hendaknya sakit tidak dihayati sebagai sebuah beban atau musibah, melainkan kita menghayatinya sebagai peristiwa yang mempersatukan kita dengan Allah. Oleh sebab itu marilah mulai saat ini kita wujudkan sikap-sikap yang demikian demi maju dan berkembangnya Gereja dan iman kita.

IV. PENUTUP
a.       Peneguhan
Bapak Ibu yang terkasih, hari ini kita telah belajar bersama ungtuk mendalami sakit yang kita alami. semoga pengalaman yang telah kita dapatka hari ini dapat menjadi semangat baru bagi kita untuk dapat semakin mampu memberikan diri kepada Kristus. Terimakasih atas perhatian dan kerjasama bapak ibu dan kesediaan untuk berpartisipasi secara aktif dalam katekese ini. Saya mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam penyampaian ini. Sampai bertemu di lain kesempatan. Tuhan Memberkati.
Marilah kita tutup acara kita dengan doa…..
b. Doa penutup
                   Allah Bapa yang maha pengasih, puji dan syukur kami panjatkan kepada-Mu karna Engkau telah membimbing kami dalam pertumuan ini, semoga kami dapat mewujudkan niat-niat kami dalam karya pelayanan Gereja. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. (Amin)
c. Lagu Penutup “Aku Dengar Bisikan Suara-Mu” (PS.695)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar