KATEKIS dalam
PERSPEKTIF DEKRIT KERASULAN
AWAM
1. PENDAHULUAN
Dengan
berubahnya situasi dunia yang semakin banyak mengalami perkembangan, maka
Gereja sangat mengharapkan partisipasi kaum awam dalam karya kerasulan. Pada situasi
sekarang ini karya kerasulan mereka ditengah masyarakat sangat dibutuhkan bahkan
lebih intensif dan lebih luas. Sebab semakin banyaknya jumlah penduduk dan juga
semakin majunya ilmu-pengetahuan dan
teknologi, banyak menimbulkan masalah-masalah baru, yang menuntut perhatian
serta usaha yang ekstra. Karya kerasulan itu semakin mendesak tidak hanya satu
bidang saja tetapi diberbagai bidang. Baik dalam bidang agama, ekonomi, dan
juga budaya. Jika dibiarkan hal ini akan semakin membahayakan bagi komunitas
hidup kristiani. Permasalahan ini semakin meluas dengan perkembangan jaman. Kaum
Hirarki tidak mungkin dapat mengatsi hal ini tanpa bantuan awam, karena terlalu
luas wilayah yang harus dijangkau. Disinilah peran awam diharapkan untuk bisa
membantu Gereja dalam mengatasi permasalahan dalam kehidupan umat yang semakin
hari semakin dapat dirasakan. Lalu siapakah awam yang berperan dalam hal ini?
Memang banyak panggilan awam ditegah hidup
menggereja, diantaranya adalah panggilan untuk menjadi seorang katekis. Katekis
ikut ambil bagian dalam mengkomunikasikan Sabda Allah kepada seluruh umat.
Sehingga katekis mempunyai peranan yang besar dalam memperbarui tata dunia.
Katekis yang juga awam ini dalam tugas kerasulan akan lebih leluasa. Hal ini
karena katekis hidup ditengah komunitas masyarakat sehingga ia dapat merasakan
apa yang terjadi ditengah masyarakat. Dalam tulisan saya ini saya akan mengulas
lebih dalam tentang tugas dan juga tantangan yang dihadapi oleh katekis, dan
juga aspek spiritualitas yang harus dijalani dan dihidupi seorang katekis.
Semoga karya tulis ini dapat berguna bagi semua pembaca dan secara khusus bagi
pribadi calon katekis, agar dapat semakin semangat dalam mengembangkan usaha
untuk menjadi katekis yang profesional.
Seperti apa yang ada dalam dekrit tentang kerasulan awam yang lahir dari
Konsili Vatikan II, dikatakan bahwa saat ini zaman menuntut semangat merasul
dari kaum awam. Apalagi saat ini zaman semakin maju dengan semakin canggihnuya
sarana-prasana baik dari ilmu pendidikan maupun tekhnologi komunikasi. Selain
itu juga bertambah banyaknya jumlah manusia hal ini menandakan bahwa kebutuhan
untuk pelayanan juga meningkat. Oleh karena itu semakin mendesaknya kebutuhan
zaman membuat kaum awam harus semakin tanggap dalam karya kerasulan dan semakin
sadar akan tanggung jawab mereka untuk ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan.
Seperti kita tahu ada banyak macam tugas
pelayanan dalam Gereja, baik kaum hirarki atau awam. Sama saat dulu Para
Rasul dan para pengganti mereka diserahi tugas mengajar, menyucikan, dan
memimpin atas nama Kristus. Sementara itu kaum awam juga mendapat tugas untuk
ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian
dan rajawi Kristus, bagi seluruh Umat Allah. Kerasulan awam ini
dijalankan dengan mewartakan Injil kepada semua orang dan mewartakan Kristus
kepada semua orang, agar semua orang dapat merasakan keselamatan. Karya kerasulan
ini cocok dilakukan seorang awam karena dia hidup didalam masyarakat sehingga
ia dapat merasakan apa yang dibutuhkan masyarakat. Dengan begitu karya
kerasulannya dapat dirasakan dan diterima oleh Umat Allah.
v Asas-Asas Kerasulan Awam
Tugas dan hak kerasulan kaum awam, diterima berdasarkan
perfsatuan mereka dengan Kristus sebagai Kepala. Dalam Baptis seluruh umat
Allah disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, melalui penguatan mereka diteguhkan
dalam Roh Kudus dan oleh Tuhan ditetapkan untuk merasul. Kerasulan ini
dijalankan dalam iman, harapan dan kasih oleh seluruh umat Kristiani. Semua itu
dilakukan untuk mengusahakan kemuliaan Allah melalui kedatangan Kerajaan-Nya
bagi seluruh umat manusia, agar mereka mengenal satu-satunya Allah dan Yesus
Kristus yang telah diutus-Nya. Dari sebab itu semua orang beriman Kristiani
mengemban tugas yang mulia yakni berusaha untuk meewartakan keselamatan bagi
semua orang dimanapun mereka berada, dengan mengamalkannya demi kesejahteraan
sesama dan pembangunan Gereja, baik di dalam Gereja dan juga masyarakat.
v
Tujuan-tujuan
yang harus dicapai
Tugas perutusanGereja tidak hanya mewartakan Kristus kepada
Umat manusia saja, namun untuk merasuki dan menyempurnakan tata dunia dengan
terang Injil. Jadi dalam melaksanakan tugasnya kaum awam tidak hanya merasul
dibidang rohani saja tetapi agar dapat semakin diterima maka bidang duniawipun
juga harus dimasuki. Meskipun kedua bidang ini dibedakan tetapi keduanya bagitu
berhubungan dan wajib untuk diperjuangkan.
Kerasulan ini dimaksudkan agar Injil dapat diwartakan dan
umat manusia disucikian. Tentu saja dalam mewartakan tidaka hanya berkata-kata
tetapi sungguh-sungguh dapat bersaksi. Tentu saja saat ini jhal ini tidaklah
mudah apalagi dizaman yang penuh dengan permasalahn dan tentangan seperti
kesesatan-kesesetan yang berusaha untuk menghancurkan agama. Selain hal itu
kerasulan awam juga ditujukan untuk pembaruan tata dunia secara Kristiani. Tata
dunia harus diperbarui sedemikian rupa agar menjadi lebih baik, dengan segala
ketetapan hukum uyang berlaku dan dengan diselaraskan dengan asas-asas hidup
kristiani yang lebih luhur dengan barbagai situasi dan kondisi. Diantara usaha
kerasulan itu yang mandapat petrhatian khusus adalah kegiatan sosial umat
kristiani yang meliputi segala bidang duniawi dan uga kebudayaaan.
v
Berbagai
Bidang kerasulan
Ada beberapa bidang kerasulan yang harus
dimasuki oleh awam diantara
jemaat-jemaat Gerejawi, kaum muda, keluarga, lingkungan social dan juga
bidang-bidangb nasional dan internasional. Dapat kita lihat bahwa saat ini
kkedaan zaman sudah sangat berbeda dan banyak mengalami perubahan. Dunia saat
ini menawarkan begitu banyak kemewahan dan kenikmatan terlebih dengan teknologi
yang modern dan serba canggih. Hal ini jika tidak diberi perhatian khusus maka
akan membahayakan komunitas Gereja.
Memang seharusnya dengan kemajuan teknologi dan lebih baiknya sarana
dapat semakin mengembangkan kepribadian kita pula. Namun nyatanya banyak orang
justru terperdaya dengan semua kemewahan itu dan tak jarang karena terlalu
menikmati tawaran dunia mereka kehilangan jati diri mereka dan juga kerap kali
iman justru mereka korbankan. Inilah yang menjadi keprihatinan. Disinilah peran
awam Gereja harus mampu mengendalikan apa yang sudah terlanjur terjadi,
dan berusaha untuk memperbaiki dan mencegah apa yang belum terjadi.
Selain itu juga keluarga, dimana tempat
awal menentukan iman itu berkembang. Keluarga adalah tempat utama terjadinya
transfer ilmu atau pendidikan. Sehingga jika orangtua mampu mengajar yang baik
maka, keluarga ini akan bertumbuih dengan baik pula karena sudah ada dasar yang
kuat. Pasangan suami-istri membina anak untuk dapat menghayati hidup kristiani
dan kerasulan. Orangtua harus bisa membantu mengarahkan dalam ia menentukan
panggilan hidupnya siapa tahu ada panggilan suci didalamnya, maka itu harus senantiasa
dikembangkan dan dibina.
Tonggak masa depan Gereja yang harus
selalu dibina lagi adalah orang muda. Orang muda katolik khususnya ia juga
harus dapat menjadi pewarta bagi kaum muda yang lain, agar mereka dapat saling
bertukar pendapat dan pikiran sebagai teman sebaya. Pergaulan yang sangat luas
dan komunikasi yang tanpa batas membuat kaum muda semakin bertumbuh dalam ilmu
pengetahuan dan relasi. Hal ini akan suatu nilai yang positiv apabila mereka
dapat memanfaatkan relasi ini untuk hal-hal yang positiv. Sehingga jika satu
orang membawa suatu paham yang baik, maka harapannya satu komunitas itu dapat
menjadi komunitas yang baik. Mereka juga harus tetap membangun relasi dengan
orang dedwasa sebagai tokoh penuntun atau orang yang dipercaya dalam medngontrol
dan mendampingi perkembangan iman mereka.
Masih banyak lagi bidang kerasulan karena
hal ini ditujukan kepada semua orang, siapapun yang ada disitu, dikomunitas itu
dan tanpa terkecuali. Intinya semua bidang ini harus tetap kita perjuangkan
agar nilai-nilai kristiani dapat masuk dan juga Kristus menjadi pegangan yang
kokoh. Dan harapannya mereka sendiri juga dapat mengajarkan dan mewartakan
Krisstus dalam setiap orang dan komunitasnya secara lisan, agar kita semua
dapat menjadi komunitas yang hidup lebih baik dengan tata dunia yang mengandung
nilai kekristenan.
1.2. Katekis Dewasa Ini
Menanggapi uraian diatas mengenai keterlibatan awam
dalam menanggapi panggilannya ada banyak karya kerasulan awam yang ingin
dibina. Dalam karya
kerasulan awam ada banyak panggilan atau jalan kerasulan yang berbeda, yang
ditempuh oleh masing-masing orang ataupun kelompok. Salah satunya adalah panggilan
sebagai seorang katekis. Ada beberapa pendapat mengenai ssiapakah katekis itu,
yakni menurut Catechesi Tradendae Katekis
adalah umat awam yang telah melalui pembentukan atau kursus dan hidup sesuai
dengan Injil. Secara ringkasnya, katekis adalah seorang yang telah diutus oleh Gereja,
sesuai dengan keperluan setempat, yang tugasnya adalah untuk membawa umat untuk
lebih mengenali, mencintai dan mengikuti Yesus. Lalu dalam Redemptoris
Missio, mengambarkan katekis pekerja-pekerja khusus, saksi-saksi
langsung, para pewarta yang sangat dibutuhkan yang mewakili kekuatan utama
komunitas-komunitas Kristiani khususnya dalam Gereja-Gereja muda, dan juga
menurut Kitab Hukum Gereja yang berisi sebuah
ketentuan bahwa katekis yang terlibat dalam kegiatan misi-misi yang keras
melukiskan katekis adalah kaum awam, pengikiut Kristus yang mendapat pendidikan
khusus dan menonjol dalam mereka menjalani kehidupan Kristianinya. Di bawah
bimbingan para misionaris mereka harus menghadirkan ajaranInjil dan terlibat
dalam perayaan liturgis dan dalam karya karitatif. Hal ini sama dengan gambaran
katekis menurut Konggregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa, bahwa katekis adalah
seorang awam yang ditunjuk secara khusus
oleh Gereja, sesuai dengan kebutuhan setempat untuk memperkenalkan Kristus,
dicintai dan diikuti oleh mereka yang belum mengenal Kristus dan oleh kaum
beriman itu sendiri.
Dalam dunia
dewasa ini peran katekis semakin di butuhkan, apalagi dizaman yang semakin
modern dan penuh perubahan. Tentu saja banyak tantangan yang harus dihadapi.
Tugas yang utama adalah berusaha menuntun sesama untuk semakin tumbuh dan
berkembang dalam iman, melalui komunitas dengan pengalaman yang konkrit. Saat
ini perubahan yang paling kentara adalah tekhnologi. Dimana tekhnologi sering
kali menjadi prioritas, hal inilah yang harus bisa diatasi atau dihindari. Maka
dari itu agar pewartaan dan pelayanan katekis dapat dirasakan oleh umat manusia
yang modern maka ia harus menyesuaikan diri agar dapat diterima ditengah arus
perubahan ini. Maka dari itu untuk menunjang perannya seorang katekis harus
mempunyai pengetahuan yang memadai tentang katekese, teologi, Kitab Suci,dan
segala bidang ilmu pengetahuan maupun tekhnologi. Hal ini harus dikuasai tidak
lain adalah agar dia bisa diterima oleh subjek yang akan dilayani dan tidak
terasa asing. Ia harus bisa mengolah sedemikian rupa hal-hal yang berkaitan
dengan pengajaran agar kontekstual atau sesuai dengan keadaan zaman saat ini.
Baik metode-metode penyampaian dan materi pengajaran, namun tetap yang utama
pengajaran harus bersumber dari Sabda Allah dan terang Roh Kudus. Oleh sebab
itu keterampilan katekis baik dalam pelayanan maupun berkomunikasi haruslah
menjadi prioritas, apalagi dalam menganalisa tanda-tanda zaman.
Meskipun katekis harus menguasai tekhnologi dan
komunikasi yang ada seperti pada saat ini, namun tetap ia tidak boleh terlalu
larut didalamnya. Untuk mengimbangi hal itu maka ia harus mempunyai
spiritualitas hidup yang kuat, yaitu mempunyai roh Allah dalam hatinya yang memampukan dia untuk
senantiasa berhubungan mesra dan “intim” dengan Allah melalui Yesus dan juga
hubungan dengan Gereja. Dalam dirinya harus selalu ada keyakinan bahwa Roh
Kudus senantiasa bekerja dalam setiap pelayanannya, dan bertahan dalam
panggilannya sebagai seorang calon katekis dengan hidup berdasar dengan Kitab
Suci. Dan jangan pernaha katekis mengabaikan tugas kerasulan yang telah di
embannya, karena apa yang ia ajarkan dan wartakan harus dapat ia hidupi
juga terlabih dahulu. Karena sebagai
saksi ia tidak hanya melihat saja tetapi juga merasakan. Jika ia telah
menghidupi nilai-nilai kristiani maka akan sangat mudah jika ia harus menjadi
saksi bagi orang lain.
Mengingat bahwa tugas katekis begitu berat maka
haruslah ada poin-poin tertentu yang harus ditanamkan dan dikembangkan dalam
diri seorang katekis, agar ia dapat masuk dalam semua bidang kerasulan.
Tantangan atau medan untuk merasul saat ini tidaklah mudah untuk ditaklukkan,
karena kita tahu bahwa dunia sudah berubah. Banyak sekali kemajuan yang
menuntut katekis sebagai pengajar juga harus mampu mengikuti kondisi di medan
ajar. Tujuannya bukan semata-mata untuk gaya atau untuk mengikuti trend jaman,
namun tujuan yang utama adalah bagaimana ajaran yang disampaikan oleh katekis
itu dapat diterima oleh umat. Maka idealnya seorang katekis itu harus dibina,
dengan tujuan:
1)
Meningkatkan kualitas katekis, baik tugas
pribadi maupun perutusannya yang mencakup motivasi, spiritualitas, pengetahuan dan
keterampilannya. Dengan demikian, ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan
dapat mempertanggungjawabkan apa yang dikatakan
dan diajarkannya. Seorang katekis harus mendapatkan pembinaan dan
pendidikan yang tepat, hal ini menyangkut soal kualitas. Hal ini sudah sering
ditekankan oleh Magisterium, bahwa setiap kegiatan kerasulan yang tidak
ditunjang oleh tenaga terdidik secara tepat maka akan gaegal. Dokumen
Magisterium yang berkaitan dengan itu menuntut pembinaan dan pendidikan umum
maupun pembinaan dan pendidikan khusus untuk katekis. Umum ini adalah bahwa
seluruh watak dan kepribadian mereka harus dikembangkan, dan khusus: mengingat
tugas khusus yang akan dituntut untuk mereka adalah mewartakan sabda baik
kepada orang kristiani atau bukan, memimpin umat, memimpin doa-doa liturgi,
membantu mereka yang membutuhkan pelayanan. Untuk itu mereka harus benar-benar
memperoleh pendidikan dan pelatihan yang layak berkaitan dengan segala sesuatu
yang menyangkut dengan ajaran-ajaran Gereja, dan hal-hal yang praktis yang
dilakukan oleh keluarga.
2)
Meningkatkan kerjasama antar katekis, yakni
kerjasama dengan pastor paroki dan fungsionaris dewan paroki yang lainnya
sehingga kerja sama, koordinasi, dan komunikasi yang sehat dan baik dapat
terjadi diantara mereka. Sehingga mereka dapat saling memenuhi kebutuhan mereka
dalam tugas pelayanan, sehingga umat atau subjek pelayanan dapat merasakan
dampak yang positif. Kerja sama yang
dilakuakan ini adalah agar tercipta sinergi antarmereka, demi hidup dan
berkembangnya paroki.
3)
Mengenai kerasulan unruk mewartakan Injil bagi
sesama dan dan menguduskan mereka, para awam perlu mendapatkan pembinaan khusus
untuk mengadakan wawancara dengan orang-orangorang-orang lain. Adapun zaman
sekarang ini matrealisme dalam aneka coraknya ini tersebar dimana-man. Sehingga
untuk menghadapi ini maka hendaknya katekis menampilkan kesaksian hidup menurut
Injil.
4)
Katekis juga harus bisa kteatif dan terampil
dalam mengolah metode-metode yang ia gunakan untuk melakukan pewartaan atau
katekese. Metode-metode yang digunakan ini harus disesuaikan dengan usia,
kebudayaan, dan sikap-sikap pribadi yang bersangkuatan. Selain itu katekis juga
harus berusaha untuk menggunakan teknologi komnikasi yang sesuai dan memadai.
5)
Katekis harus mau belajar terus men erus agar
karyanya semakin baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Belajar dalam hal ini
tidak hanya sekedar ilmu pengetahuan tetapi juga belajar untuk tumbuh dan
berkembang dalam iman dan hidup rohani. Hal ini dapat dilakukan dengan
menghadiri Ekaaristi secara teratur, mendaraskan ibadat harian, meditassi, doa
pribadi, sakramen pengampunan dosa, dan juga bisa dengan retret rohani. Melalui
hiduo doa semacam ini katekis akan memperkaya kehidupan batinnya dan memperoleh
kedewasaan rohani yang diperlukan dalam menjalankan tugas dan perannya.
Pembinaan-pembinaan bagi katekis itu dapat dilakukan sekala berkala dan
pembinaan rutinpembinaan berkala ini sangat mudah dilakukan dan menarik karena
dapat dilakukan tiga atau enam bulan sekali dengan aneka tema dan kepentingan.
Sedangkan pembinaan rutin umumnya tidak menarik dan, banyak kendala yang akan
dihadapi baik dari pihak pastor paroki maupun pihak katekis sendiri, karena
keduanya tidak mempunyai sikapdan semangat kesetiaan terhadap komitmen atas
karya pewartaan ini. Padahal dengan pembinaan rutin inilah yang sangat
menunjang tercapainya tujuan untuk mengolah motivasi, spiritualitas,
pengetahuan dan katerampilan katekis.
Ø Tantangan / Kesulitan yang dihadapi seorang
katekis
Banyak hal yang dapat menyulitkan langkah kita dalam
melakukan tugas pewartaan yakni keadaan zaman, subjek pewartaan,
masalah-masalah dalam diri kita yang semua sangat menguras hati dan emosi.
Tantangan yang pertama adalah keadaan zaman yang sangat berubah. Perubahan ini
sangat pesat, apalagi yang paling kelihatan adalah sarana dan prasana yang
semakin bervariasi. Hal ini membuat semua orang sibuk dengan kegiatan mereka
masing-masing, sehingga mereka sering kali tidak menyadari kehadiran kita.
Sehingga kita mengalami penolakan. Hal ini hanya contoh konkrit yang sederhana,
yang lebih extrim adalah bahwa mereka mengabaikan kegiatan menggereja tapi
justru lebih asyik bermesran dengan laptop, BB, dan banyak hal yang dirasa
lebih menyenangkan daripada sekedar ikut
kegiatan lingkungan. Sering juga terlihat ketika Perayaan Ekaristi, banyak
orang yang masih disibukkan dengan Hp. Inilah yang harus diubah dan disadarkan,
hal ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus karena semakin lama akan dapat
mengikis iman seseorang.
Akhir-akhir ini juga banyak keluarga yang terguncang
karena masalah teknologi komunikasi. Banyak muncul perselingkuhan dimana-mana,
karena ketika seseorang terlanjur asyik dengan teman sms atau telvonnya, tidak
jarang ia mengabaikan yang berada disampingnya. Akhirnya bisa dikatakan bahwa
hp membuat yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Ini adalah
tantangan bagi katekis untuk bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagaimana
orang-orang menyadari bahwa Allah tetap menjadi prioritas.
Situasi zaman yang berubah-ubah ini juga menuntut
katekis untuk selalu peka terhadap subjek yang dilayaninya. Metode apa yang
harus ia gunakan agar pewartaannya dapat berhasil dan diterima. Katekis juga
diharapkan selalu teguh agar dia tidak terlarut dalam persoalan-persoalan yang
ia hadapi dan membuat dirinya kalut. Yang harus selalu dikedepankan adalah
hati, kesabaran dan juga kerelaan untuk senantiasa melayani Kristus. Katekis
harus bisa selalu mengolah rasa dan memotivasi diri.
Ø Semangat hidup dan spirutialitas Katekis
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa tantangan tugas seoarang
katekis itu tidak mudah, maka ia diharapkan mampu mengembankan beberapa
keutamaan dan semangat hidup yang dapat dijadikan tolok ukur tugas perutusannya
adalah; pertama, para katekis harus hidup dalam roh, yang akan membantu mereka
untuk memperbarui mereka dalam identitas khusus mereka. Spiritualitas hidup
yang harus mereka capai adalah suatu panggilan kepada kesucian hidup baerkaitan
dengan tugas perutusannya. Bagi katekis yang telah berkeluarga, kehidupan
perkawinan merupakan bagian integral dari spiritualitas hidup mereka. Akan
sangat baik saya kira jika ia melibatkan anak dan idtrinya dalam karya
kerasulannya. Kedua, yakni terbuka terhaadap sabda Tuhan, terhadap Gereja, dan
terhadap dunia. Ia mempunyai kehidupan yang autentik, semangat misioner, dan
devosi kepaada Bunda Maria. Keterbukaan terhadap sabda berarti dia terbuka
terhadap Allah Tritunggal. Yakni sikap yang selalu mencari persekutuan dengan
Kristus, agar ikut ambil bagian dalam pikiran dan juga pengalaman. Sikap yang
sepadan dengan itu adalah sikap yang juga membiarkan dirinya dibentuk oleh Roh
Kudus dan diubah menjadi saksi Kristus yang berani memberikan dirinya untuk
menjadi pewarta sabda. Selain itu adalah keterbukaan terhadap Gereja yang
terungkap dalam cinta, pengabdian dan pelayanannya, dan kesediaan untuk
menderita. Parta katekis harus ikut secara bertanggungjawab dalam perubahan
duniawi sepanjang peziarahan Gdreja, yang pada hakikatnya bersifat misioner dan
bersama Gereja mendambakan persekutuan dengan Kristus. Akhirnya juga
keterbukaan misioner terhadap dunia, yakni katekis harus sepenuhnya terlibata
dalam kehidupan masyarakat. Ia harus tanggap dengan kesulitan-kesulitan yang
dihadapi, dan menyadarkan mereka bahwa ini adalah sebuah fase yang harus
dialami tanpa mereka harus mundur. Keterbukaan terhadap dunia merupakan suatu
ciri spiritualitas katekis atas dasar cinta rasuli Kristus Gembala yang Baik.
Katekis harus dipenuhi cinta ini dan membawanya kepada saudara-saudarinya
ketika mereka mewartakan kepada mereka bahwa Tuhan mencintai dan memberikan
keselamatan bagi mereka.
1.3.
Aplikasi
Bagi Seorang Katekis
Setelah mengetahui tentang tugas dan peran awam dalam merasul, terutama
seorang katekis ada beberapa poin yang dapat saya ambil. Pertama mengenai
tantangan yang harus dihadapi oleh katekis dalam tugas pewartaannya. Memang
benar bahwa zaman yang semakin maju ini membuat peran katekis semakin
diharapkan. Tantangan dari luar itu membuat katekis harus selalu berfikir tentang
metode yang harus dilakukan dalam katekesenya. Katekis juga harus semakin jeli
dalam melihat subjek yang akan dilayani, agar apa yang diberikan dapat
sungguh-sungguh mengena dan dapat diterima. Katekis juga harus tanggap dengan
kondisi dilingkungannya, dan mampu memberikan solusi atas masalah yang
dihadapi. Mengingat tantangan yang harus dihadapi begitu besar maka katekis
juga harus cakap dalam pengetahuan, terutama bidang-bidang pengajaran agar apa
yang akan diajarkan tidak menimbulkan kesesatan.
Poin kedua adalah spiritualitas hidupnya. Seorang katekis harus selalu
bertekun dalam doa dan mengusahakan agar Allah dapat benar-benar hadir didalam
dirinya dan dalam kehidupan sehari-hari. Ia harus menyadari segala tindakannya
dalam terang Roh Kudus, sehingga apa yang akan dilakukan selalu dipikirkan
terlebih dahulu. Selain bertekun dalam doa ia harus selalu membaca dan
mendalami Kitab Suci, agar dia semakin dekat dengan Sabda Allah dan dapat
mewartakannya didalam komunitas hidupnya dan seluruh umat beriman.
Dengan semakin majunya sarana-prasana dan juga teknologi informasi,
hendaknya pengajaran kateketik diberikan dengan
mempergunakan segala sarana yang dipandang efisien, mengingat sifat,
umur, dan keadaan hidupnya, dapat mempelajari ajaran katolik dengan lebih
lengkap dan juga tepat. Dengan menggunakan sarana yang ada diharapkan katekis
bisa lebih mengelompokkan dan mengolah bahan katekesenya dengan disesuaikan
dengan tingkatan usia. Misalnya saja untuk kaum muda dengan menggunakan
audio-visual, dan juga game yang menarik. Sehingga mereka tidak merasa bosan
dengan pengajaran tetapi semakin semangat dan semakin tertantang untuk belajar
dan mendalami imannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka, jika seorang katekis
dapat menggunakan teknologi dengan baik, kegiatan pewartaannya dapat menjangkau
wilayah yang luas. Sehingga Sabda Allah juga dapat diperdengarkan oleh banyak
orang di wilayah yang luas.dan harapannya dengan begitu banyak orang yang akan
diselamatkan dan dapat masuk dalam Kerajaan Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Dokumentasi
dan Penerangan KWI yang bekerja sama dengan Komisi Kateketik Konferensi
Waligereja Indonesia. 2000. Petunjuk Umum
Katekese. Percetakan SMK Grafika Mardi Yuana : Bogor.
Dokumen Konsili Vatikan
II tentang Kerasulan Awam (Apostolicam
Actuositatem)
Go, Piet. 1993. Bahan Pengembangan Kerasulan Awam. Dioma
: Malang
Komisi Kateketik KWI.
1997. Pedoman Untuk Katekis.
Kanisius: Yogyakarta
Komisi Kateketik KWI.
2005. Identitas Katekis Di Tengah Arus
Perubahan Jaman. KWI: Jakarta
Prasetya, L. 2007. Menjadi Katekis, Siapa Takut?. Kanisius
: Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar