Senin, 05 November 2012

Katekis Dewasa Ini


KATEKIS dalam PERSPEKTIF DEKRIT KERASULAN AWAM

1. PENDAHULUAN
Dengan berubahnya situasi dunia yang semakin banyak mengalami perkembangan, maka Gereja sangat mengharapkan partisipasi kaum awam dalam karya kerasulan. Pada situasi sekarang ini karya kerasulan mereka ditengah masyarakat sangat dibutuhkan bahkan lebih intensif dan lebih luas. Sebab semakin banyaknya jumlah penduduk dan juga semakin  majunya ilmu-pengetahuan dan teknologi, banyak menimbulkan masalah-masalah baru, yang menuntut perhatian serta usaha yang ekstra. Karya kerasulan itu semakin mendesak tidak hanya satu bidang saja tetapi diberbagai bidang. Baik dalam bidang agama, ekonomi, dan juga budaya. Jika dibiarkan hal ini akan semakin membahayakan bagi komunitas hidup kristiani. Permasalahan ini semakin meluas dengan perkembangan jaman. Kaum Hirarki tidak mungkin dapat mengatsi hal ini tanpa bantuan awam, karena terlalu luas wilayah yang harus dijangkau. Disinilah peran awam diharapkan untuk bisa membantu Gereja dalam mengatasi permasalahan dalam kehidupan umat yang semakin hari semakin dapat dirasakan. Lalu siapakah awam yang berperan dalam hal ini?
Memang banyak panggilan awam ditegah hidup menggereja, diantaranya adalah panggilan untuk menjadi seorang katekis. Katekis ikut ambil bagian dalam mengkomunikasikan Sabda Allah kepada seluruh umat. Sehingga katekis mempunyai peranan yang besar dalam memperbarui tata dunia. Katekis yang juga awam ini dalam tugas kerasulan akan lebih leluasa. Hal ini karena katekis hidup ditengah komunitas masyarakat sehingga ia dapat merasakan apa yang terjadi ditengah masyarakat. Dalam tulisan saya ini saya akan mengulas lebih dalam tentang tugas dan juga tantangan yang dihadapi oleh katekis, dan juga aspek spiritualitas yang harus dijalani dan dihidupi seorang katekis. Semoga karya tulis ini dapat berguna bagi semua pembaca dan secara khusus bagi pribadi calon katekis, agar dapat semakin semangat dalam mengembangkan usaha untuk menjadi katekis yang profesional.

1.1.  Kerasulan Awam


Seperti apa yang ada dalam dekrit tentang kerasulan awam yang lahir dari Konsili Vatikan II, dikatakan bahwa saat ini zaman menuntut semangat merasul dari kaum awam. Apalagi saat ini zaman semakin maju dengan semakin canggihnuya sarana-prasana baik dari ilmu pendidikan maupun tekhnologi komunikasi. Selain itu juga bertambah banyaknya jumlah manusia hal ini menandakan bahwa kebutuhan untuk pelayanan juga meningkat. Oleh karena itu semakin mendesaknya kebutuhan zaman membuat kaum awam harus semakin tanggap dalam karya kerasulan dan semakin sadar akan tanggung jawab mereka untuk ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan. Seperti kita tahu ada banyak macam tugas  pelayanan dalam Gereja, baik kaum hirarki atau awam. Sama saat dulu Para Rasul dan para pengganti mereka diserahi tugas mengajar, menyucikan, dan memimpin atas nama Kristus. Sementara itu kaum awam juga mendapat tugas untuk ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian  dan rajawi Kristus, bagi seluruh Umat Allah. Kerasulan awam ini dijalankan dengan mewartakan Injil kepada semua orang dan mewartakan Kristus kepada semua orang, agar semua orang dapat merasakan keselamatan. Karya kerasulan ini cocok dilakukan seorang awam karena dia hidup didalam masyarakat sehingga ia dapat merasakan apa yang dibutuhkan masyarakat. Dengan begitu karya kerasulannya dapat dirasakan dan diterima oleh Umat Allah.
v  Asas-Asas Kerasulan Awam
Tugas dan hak kerasulan kaum awam, diterima berdasarkan perfsatuan mereka dengan Kristus sebagai Kepala. Dalam Baptis seluruh umat Allah disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, melalui penguatan mereka diteguhkan dalam Roh Kudus dan oleh Tuhan ditetapkan untuk merasul. Kerasulan ini dijalankan dalam iman, harapan dan kasih oleh seluruh umat Kristiani. Semua itu dilakukan untuk mengusahakan kemuliaan Allah melalui kedatangan Kerajaan-Nya bagi seluruh umat manusia, agar mereka mengenal satu-satunya Allah dan Yesus Kristus yang telah diutus-Nya. Dari sebab itu semua orang beriman Kristiani mengemban tugas yang mulia yakni berusaha untuk meewartakan keselamatan bagi semua orang dimanapun mereka berada, dengan mengamalkannya demi kesejahteraan sesama dan pembangunan Gereja, baik di dalam Gereja dan juga masyarakat.


v  Tujuan-tujuan yang harus dicapai
Tugas perutusanGereja tidak hanya mewartakan Kristus kepada Umat manusia saja, namun untuk merasuki dan menyempurnakan tata dunia dengan terang Injil. Jadi dalam melaksanakan tugasnya kaum awam tidak hanya merasul dibidang rohani saja tetapi agar dapat semakin diterima maka bidang duniawipun juga harus dimasuki. Meskipun kedua bidang ini dibedakan tetapi keduanya bagitu berhubungan dan wajib untuk diperjuangkan.
Kerasulan ini dimaksudkan agar Injil dapat diwartakan dan umat manusia disucikian. Tentu saja dalam mewartakan tidaka hanya berkata-kata tetapi sungguh-sungguh dapat bersaksi. Tentu saja saat ini jhal ini tidaklah mudah apalagi dizaman yang penuh dengan permasalahn dan tentangan seperti kesesatan-kesesetan yang berusaha untuk menghancurkan agama. Selain hal itu kerasulan awam juga ditujukan untuk pembaruan tata dunia secara Kristiani. Tata dunia harus diperbarui sedemikian rupa agar menjadi lebih baik, dengan segala ketetapan hukum uyang berlaku dan dengan diselaraskan dengan asas-asas hidup kristiani yang lebih luhur dengan barbagai situasi dan kondisi. Diantara usaha kerasulan itu yang mandapat petrhatian khusus adalah kegiatan sosial umat kristiani yang meliputi segala bidang duniawi dan uga kebudayaaan.
v   Berbagai Bidang kerasulan
Ada beberapa bidang kerasulan yang harus dimasuki oleh awam diantara jemaat-jemaat Gerejawi, kaum muda, keluarga, lingkungan social dan juga bidang-bidangb nasional dan internasional. Dapat kita lihat bahwa saat ini kkedaan zaman sudah sangat berbeda dan banyak mengalami perubahan. Dunia saat ini menawarkan begitu banyak kemewahan dan kenikmatan terlebih dengan teknologi yang modern dan serba canggih. Hal ini jika tidak diberi perhatian khusus maka akan membahayakan komunitas Gereja.
Memang seharusnya dengan kemajuan teknologi dan lebih baiknya sarana dapat semakin mengembangkan kepribadian kita pula. Namun nyatanya banyak orang justru terperdaya dengan semua kemewahan itu dan tak jarang karena terlalu menikmati tawaran dunia mereka kehilangan jati diri mereka dan juga kerap kali iman justru mereka korbankan. Inilah yang menjadi keprihatinan. Disinilah peran awam Gereja harus mampu mengendalikan apa yang sudah terlanjur terjadi, dan berusaha untuk memperbaiki dan mencegah apa yang belum terjadi.
Selain itu juga keluarga, dimana tempat awal menentukan iman itu berkembang. Keluarga adalah tempat utama terjadinya transfer ilmu atau pendidikan. Sehingga jika orangtua mampu mengajar yang baik maka, keluarga ini akan bertumbuih dengan baik pula karena sudah ada dasar yang kuat. Pasangan suami-istri membina anak untuk dapat menghayati hidup kristiani dan kerasulan. Orangtua harus bisa membantu mengarahkan dalam ia menentukan panggilan hidupnya siapa tahu ada panggilan suci didalamnya, maka itu harus senantiasa dikembangkan dan dibina.
Tonggak masa depan Gereja yang harus selalu dibina lagi adalah orang muda. Orang muda katolik khususnya ia juga harus dapat menjadi pewarta bagi kaum muda yang lain, agar mereka dapat saling bertukar pendapat dan pikiran sebagai teman sebaya. Pergaulan yang sangat luas dan komunikasi yang tanpa batas membuat kaum muda semakin bertumbuh dalam ilmu pengetahuan dan relasi. Hal ini akan suatu nilai yang positiv apabila mereka dapat memanfaatkan relasi ini untuk hal-hal yang positiv. Sehingga jika satu orang membawa suatu paham yang baik, maka harapannya satu komunitas itu dapat menjadi komunitas yang baik. Mereka juga harus tetap membangun relasi dengan orang dedwasa sebagai tokoh penuntun atau orang yang dipercaya dalam medngontrol dan mendampingi perkembangan iman mereka.
Masih banyak lagi bidang kerasulan karena hal ini ditujukan kepada semua orang, siapapun yang ada disitu, dikomunitas itu dan tanpa terkecuali. Intinya semua bidang ini harus tetap kita perjuangkan agar nilai-nilai kristiani dapat masuk dan juga Kristus menjadi pegangan yang kokoh. Dan harapannya mereka sendiri juga dapat mengajarkan dan mewartakan Krisstus dalam setiap orang dan komunitasnya secara lisan, agar kita semua dapat menjadi komunitas yang hidup lebih baik dengan tata dunia yang mengandung nilai kekristenan.


1.2.  Katekis Dewasa Ini
Menanggapi uraian diatas mengenai keterlibatan awam dalam menanggapi panggilannya ada banyak karya kerasulan awam yang ingin dibina. Dalam karya kerasulan awam ada banyak panggilan atau jalan kerasulan yang berbeda, yang ditempuh oleh masing-masing orang ataupun kelompok. Salah satunya adalah panggilan sebagai seorang katekis. Ada beberapa pendapat mengenai ssiapakah katekis itu, yakni menurut Catechesi Tradendae Katekis adalah umat awam yang telah melalui pembentukan atau kursus dan hidup sesuai dengan Injil. Secara ringkasnya, katekis adalah seorang yang telah diutus oleh Gereja, sesuai dengan keperluan setempat, yang tugasnya adalah untuk membawa umat untuk lebih mengenali, mencintai dan mengikuti Yesus. Lalu dalam  Redemptoris Missio, mengambarkan katekis pekerja-pekerja khusus, saksi-saksi langsung, para pewarta yang sangat dibutuhkan yang mewakili kekuatan utama komunitas-komunitas Kristiani khususnya dalam Gereja-Gereja muda, dan juga menurut Kitab Hukum Gereja yang berisi sebuah ketentuan bahwa katekis yang terlibat dalam kegiatan misi-misi yang keras melukiskan katekis adalah kaum awam, pengikiut Kristus yang mendapat pendidikan khusus dan menonjol dalam mereka menjalani kehidupan Kristianinya. Di bawah bimbingan para misionaris mereka harus menghadirkan ajaranInjil dan terlibat dalam perayaan liturgis dan dalam karya karitatif. Hal ini sama dengan gambaran katekis menurut Konggregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa, bahwa katekis adalah seorang awam yang ditunjuk  secara khusus oleh Gereja, sesuai dengan kebutuhan setempat untuk memperkenalkan Kristus, dicintai dan diikuti oleh mereka yang belum mengenal Kristus dan oleh kaum beriman itu sendiri.
Dalam dunia dewasa ini peran katekis semakin di butuhkan, apalagi dizaman yang semakin modern dan penuh perubahan. Tentu saja banyak tantangan yang harus dihadapi. Tugas yang utama adalah berusaha menuntun sesama untuk semakin tumbuh dan berkembang dalam iman, melalui komunitas dengan pengalaman yang konkrit. Saat ini perubahan yang paling kentara adalah tekhnologi. Dimana tekhnologi sering kali menjadi prioritas, hal inilah yang harus bisa diatasi atau dihindari. Maka dari itu agar pewartaan dan pelayanan katekis dapat dirasakan oleh umat manusia yang modern maka ia harus menyesuaikan diri agar dapat diterima ditengah arus perubahan ini. Maka dari itu untuk menunjang perannya seorang katekis harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang katekese, teologi, Kitab Suci,dan segala bidang ilmu pengetahuan maupun tekhnologi. Hal ini harus dikuasai tidak lain adalah agar dia bisa diterima oleh subjek yang akan dilayani dan tidak terasa asing. Ia harus bisa mengolah sedemikian rupa hal-hal yang berkaitan dengan pengajaran agar kontekstual atau sesuai dengan keadaan zaman saat ini. Baik metode-metode penyampaian dan materi pengajaran, namun tetap yang utama pengajaran harus bersumber dari Sabda Allah dan terang Roh Kudus. Oleh sebab itu keterampilan katekis baik dalam pelayanan maupun berkomunikasi haruslah menjadi prioritas, apalagi dalam menganalisa tanda-tanda zaman.
Meskipun katekis harus menguasai tekhnologi dan komunikasi yang ada seperti pada saat ini, namun tetap ia tidak boleh terlalu larut didalamnya. Untuk mengimbangi hal itu maka ia harus mempunyai spiritualitas hidup yang kuat, yaitu mempunyai roh Allah  dalam hatinya yang memampukan dia untuk senantiasa berhubungan mesra dan “intim” dengan Allah melalui Yesus dan juga hubungan dengan Gereja. Dalam dirinya harus selalu ada keyakinan bahwa Roh Kudus senantiasa bekerja dalam setiap pelayanannya, dan bertahan dalam panggilannya sebagai seorang calon katekis dengan hidup berdasar dengan Kitab Suci. Dan jangan pernaha katekis mengabaikan tugas kerasulan yang telah di embannya, karena apa yang ia ajarkan dan wartakan harus dapat ia hidupi juga  terlabih dahulu. Karena sebagai saksi ia tidak hanya melihat saja tetapi juga merasakan. Jika ia telah menghidupi nilai-nilai kristiani maka akan sangat mudah jika ia harus menjadi saksi bagi orang lain.
Mengingat bahwa tugas katekis begitu berat maka haruslah ada poin-poin tertentu yang harus ditanamkan dan dikembangkan dalam diri seorang katekis, agar ia dapat masuk dalam semua bidang kerasulan. Tantangan atau medan untuk merasul saat ini tidaklah mudah untuk ditaklukkan, karena kita tahu bahwa dunia sudah berubah. Banyak sekali kemajuan yang menuntut katekis sebagai pengajar juga harus mampu mengikuti kondisi di medan ajar. Tujuannya bukan semata-mata untuk gaya atau untuk mengikuti trend jaman, namun tujuan yang utama adalah bagaimana ajaran yang disampaikan oleh katekis itu dapat diterima oleh umat. Maka idealnya seorang katekis itu harus dibina, dengan tujuan:
1)       Meningkatkan kualitas katekis, baik tugas pribadi maupun perutusannya yang mencakup motivasi, spiritualitas, pengetahuan dan keterampilannya. Dengan demikian, ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat mempertanggungjawabkan apa yang dikatakan  dan diajarkannya. Seorang katekis harus mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang tepat, hal ini menyangkut soal kualitas. Hal ini sudah sering ditekankan oleh Magisterium, bahwa setiap kegiatan kerasulan yang tidak ditunjang oleh tenaga terdidik secara tepat maka akan gaegal. Dokumen Magisterium yang berkaitan dengan itu menuntut pembinaan dan pendidikan umum maupun pembinaan dan pendidikan khusus untuk katekis. Umum ini adalah bahwa seluruh watak dan kepribadian mereka harus dikembangkan, dan khusus: mengingat tugas khusus yang akan dituntut untuk mereka adalah mewartakan sabda baik kepada orang kristiani atau bukan, memimpin umat, memimpin doa-doa liturgi, membantu mereka yang membutuhkan pelayanan. Untuk itu mereka harus benar-benar memperoleh pendidikan dan pelatihan yang layak berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut dengan ajaran-ajaran Gereja, dan hal-hal yang praktis yang dilakukan oleh keluarga.
2)       Meningkatkan kerjasama antar katekis, yakni kerjasama dengan pastor paroki dan fungsionaris dewan paroki yang lainnya sehingga kerja sama, koordinasi, dan komunikasi yang sehat dan baik dapat terjadi diantara mereka. Sehingga mereka dapat saling memenuhi kebutuhan mereka dalam tugas pelayanan, sehingga umat atau subjek pelayanan dapat merasakan dampak yang positif. Kerja sama yang  dilakuakan ini adalah agar tercipta sinergi antarmereka, demi hidup dan berkembangnya paroki.
3)       Mengenai kerasulan unruk mewartakan Injil bagi sesama dan dan menguduskan mereka, para awam perlu mendapatkan pembinaan khusus untuk mengadakan wawancara dengan orang-orangorang-orang lain. Adapun zaman sekarang ini matrealisme dalam aneka coraknya ini tersebar dimana-man. Sehingga untuk menghadapi ini maka hendaknya katekis menampilkan kesaksian hidup menurut Injil.
4)       Katekis juga harus bisa kteatif dan terampil dalam mengolah metode-metode yang ia gunakan untuk melakukan pewartaan atau katekese. Metode-metode yang digunakan ini harus disesuaikan dengan usia, kebudayaan, dan sikap-sikap pribadi yang bersangkuatan. Selain itu katekis juga harus berusaha untuk menggunakan teknologi komnikasi yang sesuai dan memadai.
5)       Katekis harus mau belajar terus men erus agar karyanya semakin baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Belajar dalam hal ini tidak hanya sekedar ilmu pengetahuan tetapi juga belajar untuk tumbuh dan berkembang dalam iman dan hidup rohani. Hal ini dapat dilakukan dengan menghadiri Ekaaristi secara teratur, mendaraskan ibadat harian, meditassi, doa pribadi, sakramen pengampunan dosa, dan juga bisa dengan retret rohani. Melalui hiduo doa semacam ini katekis akan memperkaya kehidupan batinnya dan memperoleh kedewasaan rohani yang diperlukan dalam menjalankan tugas dan perannya.

Pembinaan-pembinaan bagi katekis itu dapat dilakukan sekala berkala dan pembinaan rutinpembinaan berkala ini sangat mudah dilakukan dan menarik karena dapat dilakukan tiga atau enam bulan sekali dengan aneka tema dan kepentingan. Sedangkan pembinaan rutin umumnya tidak menarik dan, banyak kendala yang akan dihadapi baik dari pihak pastor paroki maupun pihak katekis sendiri, karena keduanya tidak mempunyai sikapdan semangat kesetiaan terhadap komitmen atas karya pewartaan ini. Padahal dengan pembinaan rutin inilah yang sangat menunjang tercapainya tujuan untuk mengolah motivasi, spiritualitas, pengetahuan dan katerampilan katekis.

Ø  Tantangan / Kesulitan yang dihadapi seorang katekis
Banyak hal yang dapat menyulitkan langkah kita dalam melakukan tugas pewartaan yakni keadaan zaman, subjek pewartaan, masalah-masalah dalam diri kita yang semua sangat menguras hati dan emosi. Tantangan yang pertama adalah keadaan zaman yang sangat berubah. Perubahan ini sangat pesat, apalagi yang paling kelihatan adalah sarana dan prasana yang semakin bervariasi. Hal ini membuat semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sehingga mereka sering kali tidak menyadari kehadiran kita. Sehingga kita mengalami penolakan. Hal ini hanya contoh konkrit yang sederhana, yang lebih extrim adalah bahwa mereka mengabaikan kegiatan menggereja tapi justru lebih asyik bermesran dengan laptop, BB, dan banyak hal yang dirasa lebih menyenangkan daripada  sekedar ikut kegiatan lingkungan. Sering juga terlihat ketika Perayaan Ekaristi, banyak orang yang masih disibukkan dengan Hp. Inilah yang harus diubah dan disadarkan, hal ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus karena semakin lama akan dapat mengikis iman seseorang.
Akhir-akhir ini juga banyak keluarga yang terguncang karena masalah teknologi komunikasi. Banyak muncul perselingkuhan dimana-mana, karena ketika seseorang terlanjur asyik dengan teman sms atau telvonnya, tidak jarang ia mengabaikan yang berada disampingnya. Akhirnya bisa dikatakan bahwa hp membuat yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Ini adalah tantangan bagi katekis untuk bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagaimana orang-orang menyadari bahwa Allah tetap menjadi prioritas.
Situasi zaman yang berubah-ubah ini juga menuntut katekis untuk selalu peka terhadap subjek yang dilayaninya. Metode apa yang harus ia gunakan agar pewartaannya dapat berhasil dan diterima. Katekis juga diharapkan selalu teguh agar dia tidak terlarut dalam persoalan-persoalan yang ia hadapi dan membuat dirinya kalut. Yang harus selalu dikedepankan adalah hati, kesabaran dan juga kerelaan untuk senantiasa melayani Kristus. Katekis harus bisa selalu mengolah rasa dan memotivasi diri.
Ø  Semangat hidup dan spirutialitas Katekis
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa tantangan tugas seoarang katekis itu tidak mudah, maka ia diharapkan mampu mengembankan beberapa keutamaan dan semangat hidup yang dapat dijadikan tolok ukur tugas perutusannya adalah; pertama, para katekis harus hidup dalam roh, yang akan membantu mereka untuk memperbarui mereka dalam identitas khusus mereka. Spiritualitas hidup yang harus mereka capai adalah suatu panggilan kepada kesucian hidup baerkaitan dengan tugas perutusannya. Bagi katekis yang telah berkeluarga, kehidupan perkawinan merupakan bagian integral dari spiritualitas hidup mereka. Akan sangat baik saya kira jika ia melibatkan anak dan idtrinya dalam karya kerasulannya. Kedua, yakni terbuka terhaadap sabda Tuhan, terhadap Gereja, dan terhadap dunia. Ia mempunyai kehidupan yang autentik, semangat misioner, dan devosi kepaada Bunda Maria. Keterbukaan terhadap sabda berarti dia terbuka terhadap Allah Tritunggal. Yakni sikap yang selalu mencari persekutuan dengan Kristus, agar ikut ambil bagian dalam pikiran dan juga pengalaman. Sikap yang sepadan dengan itu adalah sikap yang juga membiarkan dirinya dibentuk oleh Roh Kudus dan diubah menjadi saksi Kristus yang berani memberikan dirinya untuk menjadi pewarta sabda. Selain itu adalah keterbukaan terhadap Gereja yang terungkap dalam cinta, pengabdian dan pelayanannya, dan kesediaan untuk menderita. Parta katekis harus ikut secara bertanggungjawab dalam perubahan duniawi sepanjang peziarahan Gdreja, yang pada hakikatnya bersifat misioner dan bersama Gereja mendambakan persekutuan dengan Kristus. Akhirnya juga keterbukaan misioner terhadap dunia, yakni katekis harus sepenuhnya terlibata dalam kehidupan masyarakat. Ia harus tanggap dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, dan menyadarkan mereka bahwa ini adalah sebuah fase yang harus dialami tanpa mereka harus mundur. Keterbukaan terhadap dunia merupakan suatu ciri spiritualitas katekis atas dasar cinta rasuli Kristus Gembala yang Baik. Katekis harus dipenuhi cinta ini dan membawanya kepada saudara-saudarinya ketika mereka mewartakan kepada mereka bahwa Tuhan mencintai dan memberikan keselamatan bagi mereka.

1.3.      Aplikasi Bagi Seorang Katekis
Setelah mengetahui tentang tugas dan peran awam dalam merasul, terutama seorang katekis ada beberapa poin yang dapat saya ambil. Pertama mengenai tantangan yang harus dihadapi oleh katekis dalam tugas pewartaannya. Memang benar bahwa zaman yang semakin maju ini membuat peran katekis semakin diharapkan. Tantangan dari luar itu membuat katekis harus selalu berfikir tentang metode yang harus dilakukan dalam katekesenya. Katekis juga harus semakin jeli dalam melihat subjek yang akan dilayani, agar apa yang diberikan dapat sungguh-sungguh mengena dan dapat diterima. Katekis juga harus tanggap dengan kondisi dilingkungannya, dan mampu memberikan solusi atas masalah yang dihadapi. Mengingat tantangan yang harus dihadapi begitu besar maka katekis juga harus cakap dalam pengetahuan, terutama bidang-bidang pengajaran agar apa yang akan diajarkan tidak menimbulkan kesesatan.
Poin kedua adalah spiritualitas hidupnya. Seorang katekis harus selalu bertekun dalam doa dan mengusahakan agar Allah dapat benar-benar hadir didalam dirinya dan dalam kehidupan sehari-hari. Ia harus menyadari segala tindakannya dalam terang Roh Kudus, sehingga apa yang akan dilakukan selalu dipikirkan terlebih dahulu. Selain bertekun dalam doa ia harus selalu membaca dan mendalami Kitab Suci, agar dia semakin dekat dengan Sabda Allah dan dapat mewartakannya didalam komunitas hidupnya dan seluruh umat beriman.
Dengan semakin majunya sarana-prasana dan juga teknologi informasi, hendaknya pengajaran kateketik diberikan dengan  mempergunakan segala sarana yang dipandang efisien, mengingat sifat, umur, dan keadaan hidupnya, dapat mempelajari ajaran katolik dengan lebih lengkap dan juga tepat. Dengan menggunakan sarana yang ada diharapkan katekis bisa lebih mengelompokkan dan mengolah bahan katekesenya dengan disesuaikan dengan tingkatan usia. Misalnya saja untuk kaum muda dengan menggunakan audio-visual, dan juga game yang menarik. Sehingga mereka tidak merasa bosan dengan pengajaran tetapi semakin semangat dan semakin tertantang untuk belajar dan mendalami imannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka, jika seorang katekis dapat menggunakan teknologi dengan baik, kegiatan pewartaannya dapat menjangkau wilayah yang luas. Sehingga Sabda Allah juga dapat diperdengarkan oleh banyak orang di wilayah yang luas.dan harapannya dengan begitu banyak orang yang akan diselamatkan dan dapat masuk dalam Kerajaan Allah.


DAFTAR PUSTAKA
Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI yang bekerja sama dengan Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia. 2000. Petunjuk Umum Katekese. Percetakan SMK Grafika Mardi Yuana : Bogor.
Dokumen Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem)
Go, Piet. 1993. Bahan Pengembangan Kerasulan Awam. Dioma : Malang
Komisi Kateketik KWI. 1997. Pedoman Untuk Katekis. Kanisius: Yogyakarta
Komisi Kateketik KWI. 2005. Identitas Katekis Di Tengah Arus Perubahan Jaman. KWI: Jakarta
Prasetya, L. 2007. Menjadi Katekis, Siapa Takut?. Kanisius : Yogyakarta.

                                                                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar